Shinto, Sejarah Dan Ritualnya

Shinto adalah agama kuno yang merupakan campuran dari animisme dan dinamisme yaitu suatu kepercayaan primitif yang percaya pada kekuatan benda, alam atau spirit. Kepercayaan tua semacam ini biasanya penuh dengan berbagai ritual dan perayaan yang biasanya berhubungan dengan musim, seperti musim panen, roh, spirit dll.

Sejak awal sebenarnya secara natural manusia sudah menyadari bahwa mereka bukanlah mahluk kuat dan di luar mereka ada kekuatan lain yang lebih superior yang langsung ataupun tidak langsung berpengaruh terhadap kehidupan mereka sehari-hari. Pengakuan, kekaguman, ketakutan dan juga kerinduan pada Spirit atau “Kekuatan Besar” yang disebut dengan nama Kami atau Kami Sama itu diwujudkan dalam bentuk tarian, upacara, festival dll.

Pengertian Shinto

Shinto berasal dari kata Shin dan To, yaitu kombinasi dua huruf kanji yang berarti Jalan Kami (Tuhan atau Dewa). Nama ini mulai dipakai pada abad ke 6, bersamaan dengan kedatangan agama Buddha, untuk membedakan dengan jelas agama lama dengan agama baru. Jadi jelas sekali, kalau masyarakat Jepang dulu menjalankan kepercayaannya apa adanya dan tanpa nama atau istilah apapun.

Shinto adalah agama kuno yang merupakan campuran dari animisme dan dinamisme yaitu suatu kepercayaan primitif yang percaya pada kekuatan benda, alam atau spirit. Kepercayaan tua semacam ini biasanya penuh dengan berbagai ritual dan perayaan yang biasanya berhubungan dengan musim, seperti musim panen, roh, spirit dan lain-lain.

Sejarah Shinto

Ajaran Shinto yang menyebutkan Kaisar sebagai Dewa Matahari sepertinya mulai muncul dan populer pada masa Periode Meiji (1868-1912) yang pada saat itu menjadikan Shinto sebagai agama resmi negara dan Kaisar sebagai Living God atau dewa yang hidup di dunia. Jadi dalam kasus ini lebih kental unsur politisnya dibanding agama.

Kemudian penjelasan tentang proses terbentuknya alam semesta, Kojiki, Izanami dan Izanagi hanyalah sekedar mitologi semata. Jadi kasusnya jelas sangat berbeda dengan kepercayaan agama semitis, yaitu Adam dan Hawa yang mutlak harus dipercayai.

Cukup banyak artikel yang menyebutkan Shinto sebagai agama yang menyembah leluhur. Pendapat yang kurang tepat tentu saja. Kuil Shinto sama sekali tidak berfungsi sebagai tempat pemujaan untuk leluhur. Shinto sama sekali tidak mengenal upacara kematian. Semua makam dan ritual kematian di negara tersebut menggunakan tradisi Buddha. Khusus untuk beberapa kuil tertentu yang termasuk kelompok Imperial Shinto seperti Yasukuni adalah perkecualiannya. Di kuil tersebut dibangun untuk menghormati keluarga kaisar dan para tentara korban perang

Dalam agama Shinto ada dua kitab suci yang tertua, tetapi di susun sepuluh abad sepeninggal jimmi temmo (660 SM), kaisar jepang yang pertama. Dan dua buah lagi di susun pada masa yang lebih belakangan, keempat empat kitab tiu adalah sebagi berikut :

  • Kojiki yang bermakna : catatan peristiwa purbakala. Disusun pada tahun 712 masehi, sesudah kekaisaran jepang berkedudukan di nara, yang ibukota nara itu di bangun pada tahun 710 masehi menuruti model ibukota changan di tiongkok.
  • Nihonji yang bermakna : riwayat jepang. Di susun pada tahun 720 masehi oleh penulis yang sama degan di Bantu oleh seorang pangeran di istana.
  • Yeghisiki yang bermakna : berbagai lembaga pada masa yengi, kitab ini disusun pada abad kesepuluh masehi terdiri atas 50 bab. Sepuluh bab yang pertama berisikan ulasan kisah kisah yang bersifat kultus, disusuli dengan peristiwa selanjutnya sampai abad kesepuluh masehi, tetapi inti isinya adalah 25 norito yakni doa – doa pujaan yang sangat panjang pada berbagai upacara keagamaan.
  • Manyosiu – yang bermakna : himpunan sepuluh ribu daun, berisikan bunga rampai, yang terdiri atas 4496 buah sajak, disusun antara abad kelima dengan abad kedelapan masehi.

Kitab 1 dan 2 itu menguraikan tentang alam kayangan kehidupan para dewa dan dewi sampai kepada Amaterasu Omi Kami (dewa matahari) dan Tsukiyomi (dewa bulan). Diangkat untuk menguasai langit dan putranya Jimmu Tenno diangkat untuk menguasai tanah yang subur (bumi Jepang) lalu disusul dengan sisilah turunan Kaisar Jepang itu beserta riwayat hidup satu persatuanya. Selanjutnya upacara-upacara keagamaan yang dilakukan dalam masa yang panjang itu dan berkenaan dengan pemujaan terhadap Kaisar beserta para dewa dan dewinya. Dan di dalam kata pendahuluan itu dalam kitab Kojiki, penulisnya menyatakan bahwa dia seorang bangsawan tingkat lima di istana, yang menerima perintah Kaisar untuk menyusun riwayat hidupnya dan silsilah keturunan Kaisar.

Kitab 3 dan 4 berisikan tentang kisah-kisah legendaris, nyanyian-nyanyian kepahlawanan, beserta sajak-sajak tentang asal usul kedewaan, asal usul kepulauan Jepang dan kerajaan Jepang. Ragam hal-hal kisah yang berkaitan tentang kehidupan para dewa dan para dewi dalam kayangan dilangit. Catatan peristiwa pada masa-masa terakhir barulah dilanjutkan dengan kisah sejarah.

Kepercayaan Agama Shinto

Agama Shinto mengajarkan kepercayaan terhadap adanya berbagai macam dewa yang disebut dengan kami. Pemujaan terhadap kami dilakukan melalui berbagai macam bentuk upacara dan perayaan keagamaan yang erat sekali hubungannya dengan tradisi masyarakat Jepang. Sebagaimana telah disebutkan, kami dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu segala bentuk kewujudan yang memiliki keistimewaan dan sifat-sifat yang menimbulkan rasa takut dan segan. Kami pun diyakini ada yang baik dan yang jahat. Obyek pemujaannya adalah segala sesuatu yang dianggap sakral (suci) yang dijumpai manusia di alam sekitar.

Kami jumlahnya tak terbatas, diperkirakan ada 80 juta kami  di Jepang tetapi di dalam 100.000 tempat pemujaan atau lebih yang aktif digunakan, hanya beberapa di antaranya yang cukup menonjol. Amaterasu, Dewi Matahari, adalah kami yang utama karena ia penguasa surga. Ia dipuja sebagai leluhur karena dipercayai bahwa ia telah mengirim cucu laki-lakinya, Ninigi, untuk mendirikan silsilah kekaisaran negara. Tenman dipuja sebagai dewa pendidikan dan banyak tempat pemujaan untuknya sangat popular di kalangan pelajar yang berdoa disana supaya lulus ujian. Hachiman semula adalah Dewa Petani, tetapi kemudian pada abad 12, ia menjadi kami perang dan prajurit. Dewa Padi, Inari, dihubungkan dengan kesuburan dan kemakmuran. Patung serigala dari batu, utusannya, biasanya di tempatkannya di pintu masuk tempat pemujaan.

Selain mereka, masih terdapat jenis-jenis dewa lainnya yang dapat dikategorikan sebagai berikut :

  • Dewa-dewa Tanah
  • Dewa-dewa Gunung
  • Dewa-dewa Laut
  • Dewa-dewa Air
  • Dewa-dewa Api
  • Dewa-dewa Pohon
  • Dewa-dewa Manusia

Selain yang telah disebutkan di atas, masih banyak lagi macam dewa yang lainnya seperti Dewa Guntur (raijin), Dewa Hati (kamado-gami), Dewa Pembimbing Perahu (Funa-Dama). Dari ajaran kedewaan yang diajarkan agama Shinto, dapatlah dikatakan bahwa agama Shinto pada dasarnya adalah merupakan faham polytheisme yang benar-benar mulus yang didasarkan atas gejala-gejala alam. Dalam hubungannya dengan dewa-dewa tersebut, mitologi agama Shinto mengemukakan secara panjang lebar riwayat penjadian alam dan para dewa seperti yang tercantum dalam kitab Kojiki dan Nihon Shoki atau Nihongi. Dan meskipun sebenarnya agama Shinto tidak ada yang mendirikan serta tidak memiliki kitab suci tertentu, namun kedua kitab di atas dianggap sebagai buku-buku suci agama Shinto, dan merupakan sumber utama pemikiran keagamaan yang terdapat dalam agama Shinto sejak dahulu hingga sekarang.

Pemikiran tentang kami dalam agama Shinto pada dasarnya sangat berbeda dengan pemikiran Tuhan dalam agama lain. Perbedaan antara Tuhan sebagai pencipta dan manusia sebagai ciptaan Tuhan tidak begitu jelas. Bahkan, hubungan anatara kami dan manusia diumpakan sebagai hubungan antara orang tua dan anak, atau hubungan antara nenekmoyang dengan keturunannya. Hubungan ini diungkapkan dalam istilah oya-ko. Seperti yang diajarkan agama Shinto, bangsa Jepang percaya bahwa mereka adalah keturunan dewa (kami).

Simbol-simbol tradisional kekuasaan suku Yamato terdiri dari tiga macam benda yaitu cermin, permata, dan pedang. Cermin yang memiliki arti Instropeksi, Permata berarti Berharga, serta Pedang/katana yang berarti Keberanian. . Ketiga benda tersebut dianggap sebagai simbol-simbol kekuasaan yang diberikan oleh Amaterasu kepada cucunya, Ninigi-no-mikoto. Ada kemungkinan simbol-simbol tersebut melambangkan matahari, bulan dan kilat. Untuk selanjutnya mite tentang matahari ini diterima oleh suku-suku yang lain, dan kemudian menjadi teori yang terkenal untuk menjelaskan asal-usul bangsa Jepang. Cermin, permata dan pedang juga tetap dijadikan symbol-simbol kekaisaran Jepang.

Agama Shinto memiliki dua kitab yang menjadi kitab suci para penganutnya, yaitu Kojiki dan Nihongi. Kitab Kojiki berisi mite-mite, legenda-legenda, dan uraian-uraian sejarah sekitar keluarga istana Jepang sejak abad para dewa sampai dengan masa pemerintahan kaisar Suiko(hingga 628 M). Sedangkan Kitab Nihongi yang terdiri dari 30 jilid dan isinya berkaitan dengan riwayat Jepang sejak abad para Dewa hingga masa pemerintahan kaisar Jito(hingga tahun 702). Separuh bagian yang pertama berisi tentang mite-mite dan legenda-legenda, dan sisanya banyak yang memuat fakta-fakta sejarah.

Ritual Shinto

Matsuri adalah kata dalam bahasa Jepang yang menurut pengertian agama Shinto berarti ritual yang dipersembahkan untuk Kami, sedangkan menurut pengertian sekularisme berarti festival, perayaan atau hari libur perayaan. Matsuri diadakan di banyak tempat di Jepang dan pada umumnya diselenggarakan jinja atau kuil, walaupun ada juga matsuri yang diselenggarakan gereja dan matsuri yang tidak berkaitan dengan institusi keagamaan. Di daerah Kyushu, matsuri yang dilangsungkan pada musim gugur disebut Kunchi.

Sebagian besar matsuri diselenggarakan dengan maksud untuk mendoakan keberhasilan tangkapan ikan dan keberhasilan panen (beras, gandum, kacang, jawawut, jagung), kesuksesan dalam bisnis, kesembuhan dan kekebalan terhadap penyakit, keselamatan dari bencana, dan sebagai ucapan terima kasih setelah berhasil dalam menyelesaikan suatu tugas berat. Matsuri juga diadakan untuk merayakan tradisi yang berkaitan dengan pergantian musim atau mendoakan arwah tokoh terkenal. Makna upacara yang dilakukan dan waktu pelaksanaan matsuri beraneka ragam seusai dengan tujuan penyelenggaraan matsuri. Matsuri yang mempunyai tujuan dan maksud yang sama dapat mempunyai makna ritual yang berbeda tergantung pada daerahnya.

Pada penyelenggaraan matsuri hampir selalu bisa ditemui prosesi atau arak-arakan Mikoshi, Dashi (Danjiri) dan Yatai yang semuanya merupakan nama-nama kendaraan berisi Kami atau objek pemujaan. Pada matsuri juga bisa dijumpai Chigo (anak kecil dalam prosesi), Miko (anak gadis pelaksana ritual), Tekomai (laki-laki berpakaian wanita), Hayashi (musik khas matsuri), penari, peserta dan penonton yang berdandan dan berpakaian bagus, dan pasar kaget beraneka macam makanan dan permainan.

Tujuan Utama Dari Shinto

Tujuan utama dari Shinto adalah mencapai keabadian di antara mahluk-mahluk rohani, Kami. Kami dipahami oleh penganut Shinto sebagai satu kekuasaan supernatural yang suci hidup di atau terhubung dengan dunia roh. Agama Shinto sangat animistik, sebagaimana kebanyakan keyakinan timur, percaya bahwa semua mahluk hidup memiliki satu Kami dalam hakikatnya. Hakikat manusia adalah yang paling tinggi, karena mereka memiliki Kami yang paling banyak.

Keselamatan adalah hidup dalam jiwa dunia dengan mahluk-mahluk suci ini, Kami. Jalan Untuk Mencapai Tujuan
Dalam Shinto keselamatan dicapai melalui pentaatan terhadap semua larangan dan penghindaran terhadap orang atau obyek yang mungkin menyebabkan ketidak sucian atau polusi. Persembahyangan dilakukan dan persembahan dibawa ke kuil untuk para Dewa yang dikatakan ada sejumlah 800 miliar di alam semesta.

Manusia tidak mempunyai Tuhan tertinggi untuk ditaati, tapi hanya perlu mengetahui bagaimana menyesuaikan diri dengan Kami dalam berbagai manifestasinya. Kami seseorang tetap hidup setelah kematian dan manusia biasanya menginginkan untuk berharga dan dikenang dengan baik oleh keturunannya. Oleh karena itu, pemenuhan kewajiban adalah unsur yang paling penting dari Shinto.

Itulah ulasan mengenai agama Shinto apabila ada kata yang salah atau ada pihak yang tersinggung, saya sebagai penulis minta maaf sebelumnya, semoga artikel ini menambah wawasan anda sekalian.

You Might Also Like