Penasaran Gimana Orang Buta Membaca?

Membaca merupakan satu dari 4 jenis kemampuan penting yang harus dimiliki oleh setiap manusia. Tapi sayangnya, tidak semua orang bisa melakukannya dengan baik dan dengan cara yang umum. Hal ini dikarenakan setiap manusi memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Seperti yang anda ketahui, untuk bisa membaca tulisan, indera yang memiliki peranan yang paling penting adalah “Mata”.

Lantas, bagaimana dengan mereka yang memang terlahir dengan indera penglihatan yang tidak sempurna? Apakah mereka tidak akan pernah bisa membaca selamanya? Jawabannya adalah tidak. Tahu kenapa? Karena ternyata ada cara lain yang bisa membantu mereka untuk melakukannya. Bagaimanakah caranya? Yuk, kita lihat penjelasannya di bawah ini.

Mata merupakan karunia sebagai penyempurna panca indera manusia. Mata ibaratkan jendela jiwa karena dapat melukiskan perasaan hati seseorang, bahkan bisa mendeteksi kebohongan atau kejujuran seseorang. Namun, tidak semua orang memiliki kesempurnaan panca indera. Banyak orang yang tidak bisa melihat karena pembawaan atau karena penyakit tertentu. Kebutaan, secara fisik memang sebuah keterbatasan atau kekurangan, tetapi di sisi lain bisa memiliki kelebihan yang berarti.

Intuisi dan kepekaan orang yang tidak bisa melihat biasanya lebih tajam daripada orang yang sempurna panca inderanya. Buta mata tidak berarti buta hati. Mungkin kalimat itu juga pantas untuk menggambarkan sosok yang sangat peduli terhadap nasib dan kehidupan sesamanya, Louis Braille. Keterbatasan penglihatan tidak membuatnya berpikir terbatas, justru mampu membuatnya berkarya dan menciptakan Huruf Braill apa dan bagaimanakah huruf Braille tersebut? Mari simak ulasannya dibawah ini

Sejarah Huruf Braille

Braille adalah sejenis sistem tulisan sentuh yang digunakan oleh orang buta. Sistem ini diciptakan oleh seorang Perancis yang bernama Louis Braille yang buta disebabkan kebutaan waktu kecil. Ketika berusia 15 tahun, Braille membuat suatu tulisan tentara untuk memudahkan tentara untuk membaca ketika gelap. Tulisan ini dinamakan huruf Braille.

Pada awal 1800-an, di tengah peperangan Napoleon di tengah Benua Eropa pada tengah malam, Kapten Charles Barbier dari pasukan Napoleon mencoba mengirimkan pesan kepada pasukannya. Mengirimkan komunikasi tertulis bisa sangat berbahaya untuk si penerima pesan yang berada di garis depan peperangan. Begitu juga dengan menyalakan lilin untuk membaca pesan tersebut malah dapat memberitahu musuh di mana posisi pasukan yang sedang bersembunyi sehingga dengan mudah diserbu musuh.

Kapten Barbier mencoba menusuk selembar kertas dengan pisaunya. Dia membuat serangkaian lubang pada kertas itu. Sang kapten sedang membuat pesan tersembunyi yang dapat dimengerti dengan ujung jari, bahkan di tengah kondisi sangat gelap. Barbier menggunakan sandi berupa garis-garis dan titik-titik timbul untuk memberikan pesan ataupun perintah kepada serdadunya dalam kondisi gelap malam. Pesan tersebut dibaca dengan cara meraba rangkaian kombinasi garis dan titik yang tersusun menjadi sebuah kalimat. Sistem demikian kemudian dikenal dengan sebutan “Night Writing”  atau tulisan malam.

Sistem night writing ini kemudian dipelajari oleh Luois Braille dan kemudian dikenal dengan nama huruf Braille

Luois Braille adalah seorang penyandang tunanetra dimana dia kehilangan penglihatannya pada umur 4 tahun akibat tertusuk jara (jarum pelubang kulit) yang mengakibatkan infeksi dan menjalar ke sebelah mata lainnya ketika sedang asyik memainkan peralatan kerja ayahnya yang berprofesi sebagai pembuat sepatu.

Demi menyesuaikan kebutuhan para tunanetra, Louis Braille mengadakan uji coba garis dan titik timbul Barbier kepada beberapa kawan tunanetra. Pada kenyataannya, jari-jari tangan mereka lebih peka terhadap titik dibandingkan garis sehingga pada akhirnya huruf-huruf Braille hanya menggunakan kombinasi antara titik dan ruang kosong atau spasi. Sistem tulisan Braille pertama kali digunakan di L’Institution Nationale des Jeunes Aveugles, Paris, dalam rangka mengajar siswa-siswa tunanetra.

Meskipun pada permulaannya terdapat halangan oleh mereka yang tidak memahami keperluan orang buta, Louis Braille senantiasa gigih menyebarkan tulisan ciptaannya tersebut. Kegigihan Braille kian bertambah saat ia menjadi guru hingga akhirnya huruf-huruf ciptaan Braille tersebut diterima khalayak ramai yang mengalami nasib sama dengannya. Melalui usaha keras Braille, beribu-ribu orang buta akhirnya dapat membaca.

Kontoversi Huruf Brille

Kontroversi mengenai kegunaan huruf Braille di Perancis sempat muncul hingga berujung pada pemecatan Dr. Pignier sebagai kepala lembaga dan larangan penggunaan tulisan Braille di tempat Louis mengajar. Karena sistem baca dan penulisan yang tidak lazim, sulit untuk meyakinkan masyarakat mengenai kegunaan dari huruf Braille bagi kaum tunanetra.

Salah satu penentang tulisan Braille adalah Dr. Dufau, asisten direktur L’Institution Nationale des Jeunes Aveugles. Dufau kemudian diangkat menjadi kepala lembaga yang baru. Untuk memperkuat gerakan anti-Braille, semua buku dan transkrip yang ditulis dalam huruf Braille dibakar dan disita. Namun dikarenakan perkembangan murid-murid tunanetra yang begitu cepat sebagai bukti dari kegunaan huruf Braille, menjelang tahun 1847 sistem tulisan tersebut diperbolehkan kembali.

Pada tahun 1851 tulisan Braille diajukan pada pemerintah negara Perancis agar diakui secara sah oleh pemerintah. Sejak saat itu penggunaan huruf Braille mulai berkembang luas hingga mencapai negara-negara lain. Pada akhir abad ke-19 sistem tulisan ini diakui secara universal dan diberi nama ‘Tulisan Braille’.

Pada mulanya, orang tidak berpikir bahwa kode braille merupakan sesuatu yang berguna untuk kaum tunanetra. Banyak orang yang menduga sistem braille akan mati sebagaimana penemunya. Bersyukur ada sedikit orang yang menyadari pentingnya penemuan Louis Braille. Pada 1868, Dr. Thomas Armitage memimpin sekelompok orang tunanetra yang terdiri atas empat orang – mendirikan lembaga untuk mengembangkan dan menyebarkan sistem temuan Louis Braille.

Kelompok kecil ini terus tumbuh dan berkembang menjadi Royal National Institute of the Blind (RNIB), yang sekarang dikenal sebagai penerbit terbesar buku-buku braille di Eropa. Penemuan brilian Louis Braille telah mengubah dunia membaca dan menulis kaum tunanetra untuk selamanya. Sekarang, kode braille telah diadaptasi hampir ke dalam semua bahasa tulis terkenal di dunia. Louis telah membuktikan bahwa dengan motivasi yang kuat, kita dapat melakukan hal yang sebelumnya tidak masuk akal.

Sistem Huruf

Sistem tulisan Braille mencapai taraf kesempurnaan di tahun 1834. Huruf-huruf Braille menggunakan kerangka penulisan seperti kartu domino. Satuan dasar dari sistem tulisan ini disebut sel Braille, di mana tiap sel terdiri dari enam titik timbul; tiga baris dengan dua titik. Keenam titik tersebut dapat disusun sedemikian rupa hingga menciptakan 64 macam kombinasi. Huruf Braille dibaca dari kiri ke kanan dan dapat melambangkan abjad, tanda baca, angka, tanda musik, simbol matematika dan lainnya. Ukuran huruf Braille yang umum digunakan adalah dengan tinggi sepanjang 0.5 mm, serta spasi horizontal dan vertikal antar titik dalam sel sebesar 2.5 mm.

Tingkatan Huruf

Huruf Braille dibagi menjadi tiga tingkatan (grade) utama
  • Grade 1
    Kelas 1 braille terdiri dari 26 huruf standar dan tanda baca. Grade 1 digunakan oleh orang-orang yang baru mulai membaca braille.
  • Grade 2
    Grade 2 braille terdiri dari 26 huruf standar alfabet, tanda baca dan kontraksi. Kontraksi yang digunakan untuk menghemat ruang karena halaman braille tidak bisa menampung banyak teks seperti sebuah halaman biasa. Buku, menu restoran dan sebagian besar bahan braille lainnya ditulis di kelas 2 braille
  • Grade 3
    Grade 3 ini tidak bersifat resmi, digunakan hanya dalam komunitas. Biasanya mereka memiliki sebuah huruf yang disingkat untuk mewakili beberapa kata.

Perkembangan Teknologi Sistem Braille

Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi dan kemajuan zaman, maka para inventor juga membuat perangkat atau media untuk memberikan kesempatan para tunanetra dalam menikmati kecanggihan sebuah perangkat. Berikut ini adalah beberapa perangkat yang mengadopsi huruf braille:

1. Braille Electronic Imaging

Alat ini dkembangkan oleh U.S National Institute for Standards and Technology (NIST). Alat ini memiliki lebih dari 3000 poin aktuator untuk membuat gambar secara penuh. Alat ini mentransfer gambar secara elektronik yang berbentuk gambar timbul.

2. B-Touch Braille Mobile Phone

Mobile phone ini dirancang bagi tunanetra dengan fleksibilitas yang sama seperti iPhone. Mobile phone ini menyediakan layar sentuh dengan interface yang dilengkapi dengan huruf Braille, yang memungkinkan tunanetra untuk menavigasi fitur telepon termasuk pengenalan suara sistem navigasi yang sederhana, serta scanner yang membaca teks dari halaman dan mengenali benda.

3. Braille Smartwatch

Para penyandang tunanetra saat ini dapat menikmati mode sekaligus teknologi yang dihadirkan oleh wearable device seperti smartwatch. Sebuah startup yang berasal dari Korea Selatan menciptkan smartwatch bagi tunanetra. Smartwatch ini diberinama Dot.

4. ORCAM

Alat ini berbentuk kacamata yang dilengkapi dengan sensor untuk mengenali objek dan juga dilengkapi dengan earphone. Alat ini mengenali objek, kemudian direkam dan disimpan dan memberitahukan kepada tunanetra melalui suara. Misal ketika kacamata ini mengarah kepada objek orang yang dikenali, maka akan memberitahukan nama orang tersebut.

5. Braille EDGE 40

Braille EDGE 40 merupakan sebuah perangkat yang dapat dihubungkan ke berbagai komputer ataupun PDA via Bluetooth. Dengan perangkat ini, tunanetra dapat membaca huruf braille dari iPad, or Android,  tablet, Windows dan juga smartphone.

Berkat adanya huruf braille ini, pada akhirnya mereka yang memiliki kekurangan dalam penglihatan bisa membaca layaknya orang-orang, meski harus menggunakan cara yang sedikit berbeda. Akan tetapi, terlepas dari itu semua adalah mereka tidak lagi bisa dianggap remeh atau disepelekan dan dianggap tidak memiliki masa depan.

Lihat saja, banyaknya teknologi yang sudah dibuat dengan menggunakan huruf braille membuat mereka juga tidak ketinggalan terhadap perkembangan teknologi di dunia.

Kerem sekali, bukan? Jadi, bagi anda yang memiliki saudara ataupun anggota keluarga yang mungkin memiliki masalah seperti ini, anda tidak perlu mengucilkan atau membatasi mereka. Mari berikan kesempatan pada mereka untuk melakukan beberapa hal yang sama seperti yang bisa anda lakukan seperti membaca misalnya.  Meskipun membutuhkan waktu yang lama dan kesabaran yang ekstra, namun dukungan anda akan selalu berharga untuk mereka.

You Might Also Like