Penyakit Rabies Dan Cara Mengatasinya

Rabies adalah suatu penyakit menular akut yang menyerang susunan syaraf pusat. Penyakit ini disebabkan oleh virus yang sangat berbahaya karena dapat mengakibatkan kematian hampir 100 %. Rabies dapat menyerang semua hewan berdarah panas serta manusia. Penyakit rabies telah dikenal manusia sejak 4.000 tahun silam.

Meskipun ilmu kesehatan semakin modern, penyakit rabies terus terjadi dan menyebabkan kematian bagi penderitanya. Penyakit rabies pada manusia memiliki nama cantik “Lyssa” dalam bahasa Yunani, yang artinya kegilaan. Infeksi virus akut mematikan ini disebarkan melalui perantara hewan yang terinfeksi. Walaupun sering mematikan, namun penyakit ini dapat dicegah. Kemampuan penularan dari hewan ke manusia ini digolongkan ke dalam penyakit yang disebut Zoonosis. Kebanyakan kasus infeksi pada manusia memang disebabkan oleh gigitan anjing. Namun, di beberapa Negara pernah dilaporkan keterlibatan penyakit ini dengan kelelawar, kucing, kera, rubah, sigung.

Penyakit Rabies

Penyebab anjing gila atau rabies disebabkan oleh virus rabies yang masuk ke keluarga Rhabdoviridae dan Genus Lysavirus. Ciri utama virus keluarga Rhabdoviridae adalah hanya memiliki satu utas negatif RNA yang tidak bersegmen. Virus rabies menular kepada manusia melalui luka akibat gigitan hewan atau luka terbuka pada kulit Anda yang terpapar dengan ar liur hewan terinfeksi rabies atau terpapar dengan selaput lendir (misalnya mata, hidung atau mulut). Virus ini kemudian menyebar dari lokasi paparan menuju ke otak hingga akhirnya menyebar ke seluruh bagian tubuh.

Waktu yang dibutuhkan virus rabies untuk berinkubasi sangat bervariasi, namun biasanya antara dua minggu sampai tiga bulan. Pada kasus yang jarang terjadi, inkubasi virus terjadi hanya dalam waktu empat hari. Masa inkubasi adalah jarak waktu ketika virus pertama kali masuk ke tubuh sampai gejala muncul.

Virus Lyssa diyakini punya potensi menyerang sistem saraf tepi secara langsung bahkan dapat memperbanyak diri di jaringan otot sekitar area luka. Selanjutnya, virus dapat dengan cepat atau lambat menjalar melalui darah ke otak hingga ke ujung-ujung serabut saraf. Makin dekat lokasi luka ke otak, umumnya makin tinggi potensi keparahannya. Sesampainya di otak, pada tingkat lanjut, virus memperbanyak diri kembali dan menyebar melalui sistem persarafan, kelenjar, hingga seluruh organ tubuh. Gejala sakit yang akan dialami seseorang yang terinfeksi rabies meliputi 4 stadium:

1. Stadium Prodromal. Gejalanya sakit yang timbul pada penderita tidak khas, menyerupai infeksi virus pada umumnya yang meliputi demam, sulit makan yang menuju taraf anoreksia, pusing dan pening (nausea) dan lain sebagainya.

2. Stadium Sensoris. Gejala penderita umumnya akan mengalami rasa nyeri pada daerah luka gigitan, panas, gugup, kebingungan, keluar banyak air liur (hipersalivasi), dilatasi pupil, hiperhidrosis, hiperlakrimasi.

3. Stadium Eksitasi. Gejalanya penderita menjadi gelisah, mudah kaget, kejang-kejang setiap ada rangsangan dari luar sehingga terjadi ketakutan pada udara (aerofobia), ketakutan pada cahaya (fotofobia) dan ketakutan air (hidrofobia). Kejang-kejang terjadi akibat adanya gangguan daerah otak yang mengatur proses menelan dan pernapasan. Hidrofobia yang terjadi pada penderita rabies terutama karena adanya rasa sakit yang luar biasa di kala berusaha menelan air.

4. Stadium Paralitik. Pada stadium paralitik setelah melalui ketiga stadium sebelumnya, penderita memasuki stadium paralitik ini menunjukkan tanda kelumpuhan dari bagian atas tubuh ke bawah yang progresif.

Durasi penyebaran penyakit ini cukup cepat maka umumnya keempat stadium di atas tidak dapat dibedakan dengan jelas. Gejala-gejala yang tampak jelas pada penderita di antaranya adanya nyeri pada luka bekas gigitan dan ketakutan pada air, udara dan cahaya, serta suara yang keras. Sedangkan pada hewan yang terinfeksi, gelaja yang tampak adalah dari jinak menjadi ganas, hewan-hewan peliharaan menjadi liar dan lupa jalan pulang, serta ekor dilengkungkan di bawah perut.

Diagnosis Rabies

Hingga kini, belum ada tes yang dapat mendeteksi seseorang terinfeksi virus rabies ketika baru digigit. Rabies baru diketahui jika virus sudah selesai berinkubasi dan memulai terornya melalui gejala. Oleh sebab itu untuk menentukan terkena rabies atau tidaknya bagi seseorang, dokter hanya mengacu pada keterangan pasien. Dalam melakukan diagnosis, biasanya dokter akan bertanya apakah pasien telah mengunjungi tempat atau daerah yang rawan rabies dan apakah pasien telah digigit oleh hewan yang berpotensi membawa virus penyakit tersebut.

Pengobatan Rabies

Jika Anda telah digigit hewan yang berpotensi menularkan rabies, satu hal yang perlu dilakukan pertama kali adalah mencuci luka gigitan tersebut dengan sabun dan basuh dengan air bersih yang mengalir. Selanjutnya bersihkan luka dengan menggunakan antiseptik atau alkohol. Jangan tutupi luka menggunakan perban apa pun dan biarkan luka tetap terbuka. Setelah itu, segera ke rumah sakit atau klinik kesehatan terdekat untuk diperiksa lebih lanjut.

Sebelum menyuntikkan suatu obat atau vaksin ke dalam tubuh, dokter akan memastikan pasien tidak alergi terhadap obat atau vaksin tersebut. Dalam hal ini, tes alergi pada kulit mungkin rutin dilakukan. Sehingga reaksi alergi, walau jarang terjadi untuk jenis vaksin yang terkini, dapat dihindari. Pemberian suntikan antitetanus, obat antibiotika, obat antinyeri dan lainnya akan dipertimbangkan dokter.

Untuk pencegahan, sedapat mungkin hindari kontak dengan binatang liar atau hewan peliharaan yang berisiko sebagai pembawa virus rabies. Hewan yang berisiko sebagai penular virus rabies biasanya dibakar dan dikubur dengan kedalaman lebih dari satu meter. Jika harus kontak dengan hewan berisiko karena pekerjaan atau tugas perjalanan, lakukan vaksinasi terlebih dahulu.

Nah, itu dia penjelasan seputar penyakit rabies yang harus Anda ketahui. Semoga bermanfaat.

You Might Also Like