Osteoporosis, Gejala Dan Jenis Serta Penyebabnya

Osteoporosis adalah penyakit yang menyebabkan penipisan dan pelemahan tulang. Kondisi ini dianggap sangat berbahaya karena efek yang dihasilkannya terhadap pergerakan dan gaya hidup pasien. Penyakit ini mempunyai sifat-sifat khas berupa massa tulang yang rendah, disertai mikro arsitektur tulang dan penurunan kualitas jaringan tulang yang dapat akhirnya menimbulkan kerapuhan tulang.

Osteoporosis hampir tidak memiliki gejala dan menyerang secara diam-diam atau biasa disebut silent desease sehingga penyakit ini dikatakan sebagai penyakit licik. Untuk lebih jelasnya mari kita bahas.

Jenis Osteoporosis

Jenis osteoporosis meliputi primer, sekunder, osteogenesis imperfecta dan idiopathic juvenile osteoporosis. Osteoporosis adalah pengeroposan tulang yang terjadi baik dewasa maupun anak-anak karena faktor hormonal. Untuk lebih jelasnya, mari kita bahas satu persatu.

  • Osteoporosis Primer

Osteoporosis primer merupakan jenis yang paling umum dari osteoporosis dan lebih sering dialami oleh kaum wanita ketimbang pria. Pada wanita, hilangnya kepadatan tulang biasanya dimulai setelah periode menstruasi berhenti (menopause) yakni antara usia 45 dan 55. Pada pria, penipisan tulang umumnya dimulai sekitar usia 45 sampai 50 tahun ketika produksi testosteron mereka melambat. Osteoporosis biasanya tidak berefek pada seseorang hingga dia berusia 60 tahun atau lebih. Wanita biasanya terkena lebih dini dibandingkan laki-laki karena mereka terjadi penurunan massa tulang lebih cepat.

  • Osteoporosis Sekunder

Osteoporosis sekunder memiliki gejala yang sama seperti osteoporosis primer. Namun osteoporosis sekunder disebabkan oleh kondisi medis tertentu seperti hiperparatiroidisme, hipertiroidisme atau leukemia. Hal ini juga bisa terjadi karena konsumsi obat yang dapat menyebabkan kerusakan tulang, seperti kortikosteroid (jika digunakan lebih dari 6 bulan), hormon tiroid dan inhibitor aromatase (digunakan untuk mengobati kanker payudara). Osteoporosis sekunder dapat terjadi pada semua usia.

  • Osteogenesis Imperfecta

Osteogenesis Imperfecta merupakan gangguan jaringan ikat yang bersifat genetik dan muncul pada saat kelahiran. Osteogenesis imperfecta ini menyebabkan tulang rusak tanpa ada tampakan klinis yang mendasari dan mudahnya terjadi patah tulang. Penyembuhan osteogenesis imperfecta sampai saat ini belum ditemukan. Penanganannya difokuskan untuk mencegah komplikasi serta menjaga massa tulang serta kekuatan otot.

  • Osteoporosis Juvenile Idiopathic

Osteoporosis Juvenile Idiopathic merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya belum diketahui. Hal ini terjadi pada anak-anak dengan usia 8-14 tahun ketika masa pertumbuhan. Belum diketahui pernyebab pastinya, namun ditemukan pembentukan tulang yang kecil dan pengeroposan tulang yang meningkat dan kondisi ini akan meningkatkan risiko patah tulang.

Gejala Klinis

Osteoporosis sering disebut silent disease karena kehilangan tulang terjadi tanpa gejala. Osteoporosis dapat terjadi pada setiap tulang, namun paling umum ditemui pada pergelangan tangan, pinggul dan tulang belakang. Jika kepadatan tulang berkurang maka tulang menjadi kolaps atau hancur, maka akan timbul nyeri tulang dan kelainan bentuk. Kolaps tulang belakang menyebabkan nyeri punggung menahun. Tulang belakang yang rapuh bisa mengalami kolaps secara spontan atau karena cedera ringan.

Osteoporosis pada tulang belakang dapat menyebabkan gejala nyeri punggung, kehilangan tinggi badan atau kelainan bentuk tulang belakang dan postur membungkuk. Penderita osteoporosis dapat mengalami patah tulang hanya dengan benturan ringan, jatuh, menaiki tangga, mengangkat benda atau membungkuk. Meskipun osteoporosis sendiri tidak menimbulkan nyeri, namun jika terjadi patah tulang penderita dapat merasa nyeri hebat.

Cedera yang umum terjadi pada penderita osteoporosis adalah keretakan pada tulang punggung, tulang pangkal paha dan pergelangan tangan. Keretakan tulang pada orang lanjut usia bisa menjadi masalah serius, tergantung pada bagian tubuh manakah keretakan tersebut terjadi. Misalnya dalam kasus keretakan tulang pangkal paha, kebebasan bergerak bisa terhambat dan bahkan bisa berujung pada kelumpuhan permanen. Dalam kasus osteoporosis yang parah, batuk atau bersin ringan saja dapat menyebabkan keretakan pada tulang rusuk atau salah satu bagian dari tulang belakang.

Penyebab Osteoporosis

Osteoporosis adalah penyakit yang tidak banyak menimbulkan gejala sehingga dapat berlangsung tanpa disadari sampai terjadi patah tulang.

  • Osteoporosis Postmenopausal

Osteoporosis postmenopausal terjadi karena kekurangan estrogen yaitu hormon utama pada wanita yang berfungsi membantu mengatur pengangkutan kalsium ke dalam tulang. Gejala penyakit ini biasanya timbul pada wanita yang berusia di antara 51-75 tahun, tetapi gejalanya bisa muncul lebih cepat ataupun lebih lambat. Wanita kulit putih dan berada di daerah timur lebih mudah menderita penyakit ini daripada wanita kulit hitam.

  • Osteoporosis Senilis

Osteoporosis senilis terjadi karena kekurangan kalsium yang berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan di antara kecepatan hancurnya tulang dan pembentukan tulang yang baru. Senilis berarti bahwa keadaan ini hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi pada usia di atas 70 tahun dan 2 kali lebih sering menyerang wanita. Osteoporosis senilis juga lebih sering menyerang wanita.

  • Osteoporosis Sekunder

Osteoporosis Sekunder disebabkan oleh keadaan medis lainnya atau oleh obat-obatan. Penyebabnya antara lain adalah gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid, paratiroid dan adrenal) dan obat-obatan (misalnya kortikosteroid, barbiturat, anti-kejang dan hormon tiroid yang berlebihan). Pemakaian alkohol yang berlebihan dan merokok bisa memperburuk keadaan ini. Kurang dari 5% penderita osteoporosis juga mengalami osteoporosis sekunder

  • Osteoporosis Juvenil Idiopatik

Osteoporosis juvenil idiopatik terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi hormone yang normal, kadar vitamin yang normal dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang. Jenis osteoporosis ini belum diketahui penyebab pastinya.

  • Kadar Hormon

Osteoporosis lebih sering terjadi, sering disebabkan oleh keseimbangan kadar hormon. Tubuh bisa memiliki terlalu banyak atau terlalu sedikit hormon tertentu dalam tubuh mereka, seperti :

Semakin menurunnya hormon sex, maka hal tersebut akan menimbulkan kecenderungan melemahnya tulang. Penurunan kadar estrogen saat wanita mengalami menopause merupakan salah satu faktor risiko terkuat untuk mengembangkan osteoporosis. Perempuan juga bisa mengalami penurunan estrogen selama pengobatan kanker tertentu. Pria mengalami penurunan bertahap dalam kadar testosteron seiring dengan bertambahnya usia mereka.

Selain itu, beberapa perawatan untuk kanker prostat juga berpotensi untuk mengurangi kadar testosteron pada pria. Terlalu banyak hormon tiroid juga dapat menyebabkan keropos tulang. Hal ini dapat terjadi jika tiroid terlalu aktif, atau pada saat seseorang mengkonsumsi terlalu banyak obat hormon tiroid untuk mengobati tiroid yang kurang aktif. Osteoporosis juga telah dikaitkan dengan paratiroid yang terlalu aktif dan kelenjar adrenal.

  • Faktor Makanan

Faktor konsumsi makanan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya gangguan osteoporosis, mereka yang lebih mungkin terkena gangguan ini antara lain :

Seseorang yang memiliki asupan kalsium yang rendah. Kurangnya kalsium memiliki peran utama dalam pengembangan osteoporosis. Asupan kalsium yang rendah memberikan kontribusi untuk kepadatan tulang berkurang, kehilangan tulang lebih awal, serta peningkatan risiko terjadinya patah tulang. Selain itu, mengkonsumsi daging merah serta minuman bersoda dimana keduanya banyak mengandung fosfor yang dapat merangsang pembentukan horman parathyroid. Penyebab pelepasan kalsium dari dalam darah juga di indikasikan sebagai pemicu osteoporosis.

Seseorang yang mengalami gangguan pola makan. Orang-orang yang menderita anoreksia berada pada risiko tinggi osteoporosis. Asupan makanan yang rendah dapat mengurangi jumlah kalori, makanan yang mengandung protein dan kalsium dalam tubuh. Pada wanita, anoreksia dapat menghentikan menstruasi, serta menyebabkan tulang menjadi lemah. Pada pria, anoreksia menurunkan jumlah hormon seks dalam tubuh dan dapat melemahkan tulang.

Cara Diagnosa

Pada seseorang yang mengalami patah tulang, diagnosis osteoporosis ditegakkan berdasarkan gejala, pemeriksaan fisik dan rontgen tulang. Pemeriksaan yang lebih lanjut mungkin diperlukan untuk menyingkirkan keadaan lainnya yang bisa diatasi, yang bisa menyebabkan osteoporosis, antara lain

  • Pemindaian DEXA

DEXA mengukur kepadatan mineral tulang (bone mineral density/BMD). Hasil DEXA anda akan dibandingkan dengan hasil kepadatan tulang orang yang umumnya sehat, sesuai dengan usia dan jenis kelamin yang sama dengan anda. Prosedur ini berdurasi sekitar 15 menit dan tidak menimbulkan rasa sakit.

  • FRAX  (Memprediksi Keretakan Tulang)

FRAX adalah program yang dapat memprediksi risiko keretakan tulang. Alat kalkulasi ini diperuntukkan bagi pasien berusia antara 40-90 tahun. FRAX dapat menghitung risiko keretakan tulang anda untuk 10 tahun ke depan. World Health Organization (WHO) telah mengembangkan alat tersebut berdasarkan kriteria tiap negara termasuk Indonesia.

  • Laboratorium

Pemeriksaan osteocalcin pada penderita osteoporosis untuk melihat kecepatan pengeroposan tulang. Proses pengeroposan tulang dapat diketahui dengan memeriksaan penanda biokimia CTx(C-Telopeptide) yang merupakan hasil penguraian kalogen tulang. Hasil penguraian tersebut dilepaskan dalam sirkulasi darah sehingga dapat menilai kecepatan pengeroposan tulang secara lebih spesifik. Selain penanda biokimia CTx, petugas laboratorium juga dapat memeriksakan penanda biokimia N-MID osteocalcin. Pemeriksaan osteocalcin(protein tulang) sangat berguna untuk memantau pengobatan penderita osteoporosis.

Pengobatan Osteoporosis

Fokus pengobatan pada penderita osteoporosis meliputi usaha peningkatkan kepadatan tulang, memperlambat kehilangan massa tulang dan mengontrol keluhan nyeri penderita . Berikut beberapa obat yang dapat digunakan untuk mengatasi osteoporosis:

  • Pemberian Estrogen

Estrogen membantu mengurangi atau menghentikan kehilangan massa tulang. Pemberian estrogen yang dimulai saat menopause menurunkan angka patah tulang pada penderita osteoporosis sebanyak 55%. Terapi estrogen dapat diberikan secara oral atau ditempel pada kulit tubuh.

  • Bisphosphonate

Obat yang menjaga kepadatan tulang dan mengurangi risiko keretakan ini biasa diberikan dalam bentuk tablet atau suntikan. Bisphosphonate bekerja dengan memperlambat laju sel-sel yang meluruhkan tulang (osteoclast). Ada beberapa bisphosphonate berbeda seperti alendronate, etidronate, ibandronate, risedronate dan asam zolendronic. Selalu ikuti petunjuk penggunaan obat yang diberikan dokter mengenai dosis dan cara konsumsi yang benar. Iritasi pada kerongkongan, kesulitan menelan dan sakit perut bisa menjadi efek samping yang timbul dari mengonsumsi bisphosphonate meski belum tentu terjadi pada setiap orang. Efek samping lain yang sangat jarang terjadi adalah nekrosis pada rahang.

  • Strontium Ranelate

Strontium ranelate dikonsumsi dalam bentuk bubuk yang dilarutkan dalam air. Obat ini bisa menjadi alternatif jika penggunaan bisphosphonate dirasa tidak cocok. Strontium ranelate memicu sel-sel yang membentuk jaringan tulang yang baru (osteoblasts) dan menekan kinerja sel-sel peluru tulang. Efek samping yang mungkin timbul pada konsumsi strontium ranelate adalah mual dan diare.

  • Terapi Penggantian Hormon

Terapi berupa hormon estrogen ini ditujukan bagi wanita pada masa menopause untuk menjaga kepadatan tulang dan mengurangi risiko keretakan selama pengobatan. Meski begitu terapi ini tidak secara spesifik direkomendasikan untuk pengobatan osteoporosis. Bahkan saat ini hampir tidak lagi digunakan karena berisiko memicu timbulnya beberapa penyakit lain seperti kanker payudara, kanker endometrium, kanker ovarium dan stroke. Sebaiknya diskusikan lebih lanjut mengenai pengaruh dari terapi ini bersama dokter anda.

Pencegahan

Untuk mencegah terjadinya osteoporosis dapat melakukan hal-hal berikut :

  1. Mempertahankan atau meningkatkan kepadatan tulang dengan mengonsumsi kalsium yang cukup
  2. Melakukan olah raga dengan beban misalnya berjalan dan menaiki tangga akan meningkatkan kepadatan tulang. Berenang tidak meningkatkan kepadatan tulang.
  3. Mengkonsumsi obat untuk beberapa orang tertentu seperti estrogen membantu mempertahankan kepadatan tulang pada wanita dan sering diminum bersamaan dengan progesteron. Terapi sulih estrogen paling efektif dimulai dalam 4-6 tahun setelah menopause, tetapi jika baru dimulai lebih dari 6 tahun setelah menopause, masih bisa memperlambat kerapuhan tulang dan mengurangi risiko patah tulang. Raloksifen merupakan obat menyerupai estrogen yang baru, yang mungkin kurang efektif daripada estrogen dalam mencegah kerapuhan tulang, tetapi tidak memiliki efek terhadap payudara atau rahim. Untuk mencegah osteroporosis, bisfosfonat (contohnya alendronat), bisa digunakan sendiri atau bersamaan dengan terapi sulih hormon.

Jadi ada baiknya kita mulai membekali diri dengan pencegahan osteoporosis sejak dini. Mencegah selalu lebih baik dari pada mengobati. Salam sehat dan nantikan artikel terbarunya.

You Might Also Like