Epilepsi: Pengertian Dan Penyebab Serta Gejalanya

Apakah pernah mendengar atau melihat orang yang terkena Epilepsi? Epilepsi biasanya ditunjukkan dengan kejang-kejang yang berlangsung dalam waktu cepat dan keluarnya busa dari mulut. Hingga sekarang epilepsi masih menjadi penyakit yang menakutkan karena ada beberapa penderita yang meninggal karena kecelakaan saat serangan kejang.

Apa Itu Epilepsi?

Epilepsi atau yang dikenal sama orang awam sebagai penyakit ayan adalah penyakit kejang berulang yang disebabkan oleh gangguan kelistrikan pada susunan saraf otak. Berdasarkan definisi tersebut, bila kejang hanya terjadi satu kali maka belum dapat disebut sebagai epilepsi. Kejang sendiri adalah kumpulan tanda dan gejala yang disebabkan oleh terjadinya gangguan kelistrikan pada susunan saraf pada otak.

Di dalam otak manusia terdapat neuron atau sel-sel saraf yang merupakan bagian dari sistem saraf. Tiap sel saraf saling berkomunikasi dengan menggunakan impuls listrik. Pada kasus epilepsi, kejang terjadi ketika impuls listrik tersebut dihasilkan secara berlebihan sehingga menyebabkan perilaku atau gerakan tubuh yang tidak terkendali.

Dalam dunia medis, seseorang dicurigai menderita epilepsi setelah mengalami kejang sebanyak lebih dari satu kali. Tingkat keparahan kejang pada tiap penderita epilepsi berbeda-beda. Ada yang hanya berlangsung beberapa detik dan ada juga yang hingga beberapa menit. Ada yang hanya mengalami kejang pada sebagian tubuhnya dan ada juga yang mengalami kejang total hingga menyebabkan kehilangan kesadaran.

Menurut Epilepsy Foundation, epilepsi merupakan gangguan saraf keempat yang paling sering diderita di Amerika Serikat. Paling tidak dari 26 orang, salah satunya menderita epilepsi. Namun, penyakit ini lebih sering menyerang orang dewasa dan anak-anak. Kadang, epilepsi sering tertukar dengan penyakit kejang lainnya, yang disebut kejang non-epilepsi. Paling tidak 20% penderita yang dianggap menderita epilepsi, ternyata mengidap kejang non-epilepsi dan Menurut data WHO, kurang lebih 50 juta orang di Dunia hidup dengan epilepsi. Angka ini akan bertambah sekitar 2.4 juta setiap tahunnya. Angka pertambahan kasus epilepsi lebih tinggi di Negara berkembang.

Klasifikasi Epilepsi

Di Negara maju, kasus epilepsi bertambah sekitar 30-50 kasus tiap 100ribu penduduk. Sedangkan di Negara dengan pendapatan perkapita rendah dan menengah kasus bisa bertambah hingga dua kali lipatnya. Di Indonesia sendiri didapatkan data kasus epilepsi paling sedikit 700.000-1,4 juta. Angka ini akan bertambah sekitar 70ribu tiap tahunnya. Di antaranya, terdapat kurang lebih 40-50 persen kasus epilepsi yang terjadi pada anak-anak. Oleh karena itu, untuk mempermudah komunikasi dan penggambaran dari sifat dan bentuk kejang, maka dilakukan pengelompokan atau pengklasifikasian seperti dibawah ini.

A. Epilepsi Umum

Jenis ini terjadi akibat gangguan kelistrikan pada seluruh bagian otak sehingga yang terkena adalah seluruh tubuh. Umumnya setelah kejang umum, keadaan penderita akan tampak mengantuk dan kebingungan. Kondisi ini dapat berlangsung hingga beberapa jam. Kejang umum sendiri lalu terbagi menjadi 3 yaitu :

  • Epilepsi Petit Mal

Penyakit ayan atau Epilepsi petit Mal adalah epilepsi yang dapat menyebabkan gangguan kesadaran secara tiba-tiba dimana seseorang menjadi seperti orang yang bengong tidak sadar diri, mengangguk-anggukkan kepala atau hanya mengedip-ngedipkan mata saja dan pada umumnya hanya berlangsung singkat, setelah beberapa saat kemudian bisa kembali dengan normal dan melakukan aktifitas seperti semula seperti biasanya.

  • Epilepsi Myoklonik Juvenil

Penyakit ayan atau Epilepsi Myoklonik Juvenil adalah epilepsi yang dapat mengakibatkan terjadinya sebuah kontraksi singkat pada satu atau pada beberapa otot mulai dari yang ringan tidak dapat terlihat sampai yang menyentak hebat seperti jatuh pada secara tiba-tiba, melemparkan yang dipegang tiba-tiba dan lain-lain.

  • Epilepsi Grand Mal

Penyakit ayan atau Epilepsi Grand Mal adalah epilepsi yang terjadi secara mendadak dimana penderitanya hilang kesadaran lalu mata mendelik ke atas dan disertai dengan gerakan ritmis dari anggota gerak dengan napas yang bunyi ngorok dan dapat mengeluarkan buih atau busa dari dalam mulut. Umumnya kejang dapat berlangsung selama 1-4 menit. Hal ini juga terkadang disertai juga dengan menggigit lidah sendiri.

B. Epilepsi Parsial (Sebagian)

Jenis ini terjadi akibat gangguan kelistrikan pada salah satu bagian dari otak sehingga yang terkena hanya sebagian. Contohnya bila yang terkena adalah bagian otak yang mengatur motorik maka dapat terjadi kedutan pada otot di wajah atau tangan, sedangkan tubuh bagian lain tidak akan terpengaruh. Sedangkan bila yang terkena adalah fungsi sensorik maka dapat terjadi gangguan pada pengelihatan. Kejang Parsial sendiri dapat lagi dibagi menjadi beberapa kelompok sebagai berikut:

  • Epilepsi Parsial Sederhana

Epilepsi Parsial Sederhana adalah epilepsi yang tidak disertai hilang kesadaran dengan gejala kejang-kejang, rasa kesemutan atau rasa kebal di suatu tempat yang berlangsung dalam hitungan menit atau jam. Setelah terjadi kejang penderita masih dapat mengingat kejadian selama kejang atau tidak tampak kebingungan.

  • Epilepsi Parsial Kompleks

Epilepsi Parsial Komplek adalah epilepsi yang disertai gangguan kesadaran yang dimulai dengan gejala parsial sederhana namun ditambah dengan halusinasi, terganggunya daya ingat, sensasi panas atau deja vu yang dikenal juga sebagai aura. Selain aura, dapat juga diawali dengan mengecap-ngecapkan mulut, berjalan tanpa tujuan atau gerakan lain tanpa tujuan lainnya yang dikenal juga dengan otomatisasi. Aura dan otomatisasi dapat berlangsung selama beberapa detik hingga hitungan menit.

Penyebab  dan Gejala Epelepsi

Ilmu kedokteran berhasil menemukan bahwa penyebab epilepsi adalah gangguan aktivitas otak. Namun, yang jadi pemicu, kenapa gangguan bisa terjadi belum dapat dipastikan. Berikut dibawah ini adalah penyebab Epelepsi.

  • Faktor Gen

Faktor gen adalah salah satu penyebab penyakit ayan yang paling umum karena penyakit ayan terbentuk dari kondisi gen yang mengalami gangguan. Misalnya akibat pola makan yang buruk, faktor lingkungan dan akibat mengendapnya bahan bahan kimia didalam otak.

  • Zat Kimia Pada Jaringan Otak

Jika banyak zat kimia bersarang didalam jaringan otak maka akan menyebabkan peningkatan arus listrik sel sel tubuh yang langsung mengarah keotak. Fungsi otak jadi terganggu dan aliran adarh ke otak pun jadi terhambat.

  • Riwayat Gangguan Mental Dan Fisik

Seseorang yang pernah mengalami gangguan mental akibat stres berat dan depresi atau gangguan emosional yang menjurus pada menyakiti diri sendiri maka rentan terkena penyakit ayan

  • Trauma Atau Benturan Kepala Yang Berat

Trauma atau benturan kepala yang berat menyebabkan terjadinya kerusakan pada otak, pendarahan otak, kehilangan kesadaran dan amnesia dapat menjadi pemicu terjadinya kejang berulang.

  • Stroke

Stroke menyebabkan kematian dan cedera dari sel – sel saraf otak sehingga memicu terjadinya kejang berulang. Sekitar 10% dari kasus stroke mangalami epilepsi.

Karena epilepsi disebabkan oleh tidak normalnya aktivitas sel otak, kejang-kejang dapat berdampak pada proses kordinasi otak anda. Ciri-ciri dan gejala kejang dapat meliputi:

  1. Kebingungan sementara
  2. Kehilangan kesadaran
  3. Gejala psikologis
  4. Kejang berulang kali dan mendadak
  5. Perasaan emosi yang intens secara mendadak, seperti sedih, takut dan bahagia
  6. Ada rasa aneh pada perut atau usus
  7. Merasa déjà vu (pernah mengalami peristiwa yang sama sebelumnya)
  8. Gerakan tubuh tidak dapat dikendalikan
  9. Rasa tergelitik di seluruh bagian tubuh
  10. Penglihatan terganggu
  11. Tatapan kosong

Bahayanya

Epilepsi yang terjadi pada penderita bisa menyebabkan berbagai macam jenis kejang. Setiap kejang maka penderita menghadapi resiko dan kemungkinan besar adalah bahaya yang bisa mengancam jiwa. Tidak ada hal yang aman saat epilepsi muncul atau saat kejang dan lingkungan memberikan dampak yang sangat besar. Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah bahaya epilepsi :

  1. Jangan membiarkan penderita epilepsi mendekati api atau mesin pemanas
  2. Jangan membiarkan penderita epilepsi berada di kolam renang sendiri
  3. Jangan membiarkan orang epilepsi mengendarai kendaraan sendiri tanpa pendampingan
  4. Jangan membiarkan penderita epilepsi berada di tempat ketinggian sendiri
  5. Berikan pengaman untuk penderita epilepsi seperti sinyak darurat atau pengaman kepala.

Pengobatan

Hingga kini memang belum ada obat atau metode yang mampu menyembuhkan kondisi ini sepenuhnya. Meski begitu, obat antiepilepsi atau OAE mampu mencegah terjadinya kejang sehingga penderita dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara normal dengan mudah dan aman. Pengobatan epilepsi dilakukan berdasarkan jenis epilepsi. Beberapa jenis pengobatan dipengaruhi oleh frekuensi epilepsi, usia penderita, kesehatan penderita dan riwayat medis. Berbagai jenis obat-obatan hanya bisa diberikan oleh dokter. Tujuan dari pengobatan epilepsi adalah untuk mengontrol kejang namun sama sekali tidak bisa menghilangkan epilepsi.

Selain obat-obatan, penanganan epilepsi juga perlu ditunjang dengan pola hidup yang sehat, seperti olahraga secara teratur, tidak mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan, serta diet khusus. Alasan kenapa kejang-kejang pada penderita epilepsi perlu ditangani dengan tepat adalah untuk menghindari terjadinya situasi yang dapat membahayakan nyawa penderitanya. Contohnya adalah terjatuh, tenggelam atau mengalami kecelakaan saat berkendara akibat kejang. Ini video sekilas penyakit epilepsi

Penting untuk tiap penderita mengenali diri masing-masing dan mengubah gaya hidup yang sesuai. Penderita tidak boleh terlalu lelah maupun stress. Penderita dapat terus sekolah, bekerja, dan berkeluarga. Salah satu masalah yang paling dekat dengan epilepsi adalah ketakutan semua orang ketika berhadapan dengan epilepsi.

Epilepsi adalah jenis penyakit neurologis yang tidak akan menular lewat sentuhan tangan. Ketika Anda menghadapi orang yang sedang kejang karena epilepsi maka berikan bantuan saat penderita sudah sadar. Sekian dulu pembahasaan tentang penyakit epilepsi, semoga dengan adanya artikel ini bisa membantu dan menambah wawasan Anda dan terima kasih atas waktu dan kunjungannya ke artikel kami, nantikan selalu artikel terbarunya 🙂

You Might Also Like