Cuci Darah, Penyebab Dan Prosedur Serta Efek Samping

Pada umumnya, kita mengenal cuci darah sebagai suatu metode untuk membantu perawatan pada pada pasien yang menderita gagal ginjal kronis ataupun gagal ginjal akut yang dapat kita ketahui lewat tanda dan gejala gagal ginjal akut. Cuci darah atau dialisis (dialysis) adalah suatu proses pencucian darah untuk membersihkan tubuh dari zat-zat limbah yang berbahaya yang terdapat dalam aliran darah.

Normalnya pencucian darah ini secara alami dilakukan oleh organ tubuh kita sendiri yaitu ginjal yang sehat. Ketika ginjal tidak dapat melakukan fungsi utamanya tersebut maka diperlukan suatu cara agar tubuh tetap sehat dan terhindar dari limbah metabolisme yang berbahaya, cara yang saat ini bisa dilakukan adalah dialisis atau cuci darah dengan menggunakan alat bantu atau mesin.

Cuci darah pada umumnya adalah salah satu bentuk perawatan pada pasien yang menderita gagal ginjal. Metode perawatan ini banyak ditakuti oleh banyak orang dan rata-rata mereka yang harus melakukan cuci darah ini mengalami tingkat stress yang tinggi karena menganggap harapan hidup mereka sudah pasti sangat rendah. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan cuci darah atau yang dalam bahasa medis dikenal dengan hemodialisis? Apakah prosedur ini aman? Dan apa Penyebab nya?

Penyebab Cuci Darah

 

Mungkin kita sering mendengar kerabat ataupun teman kita yang mengalami sebuah penyakit yang bisa dibilang cukup parah sehingga mereka harus melakukan pencucian darah. Bukan tidak tanggung biaya yang harus mereka keluarkan pastinya sangat besar. Dan kegiatan cuci darah tersebut tak hanya dilakukan sekali saja melainkan berkali-kali. Nah kira-kira apa sih penyebab seseorang harus melakukan cuci darah? Berikut penyebabnya

1. Keracunan Ethanol

Methanol adalah salah satu senyawa kimia yang merupakan salah satu bahan aditif yang dapat menjadi salah satu sebab cuci darah. Methanol merupakan golongan dari etana, sebuah senyawa dengan unsur carbon dan hidrogen yang saling terikat satu sama lain. Senyawa ini banyak dipakai dalam produksi alkohol, obat pembunuh serangga atau insektisida, pembuatan spiritus, kebutuhan industri, bensin dan lain sebagainya.

Menghirup atau menelan methanol dalam jumlah cukup banyak dapat membuat kita keracunan. Respons yang muncul apabila kita keracunan etanol adalah kejang-kejang sebagai tanda terganggunya fungsi tubuh secara keseluruhan. Akibat lain dapat meliputi mual, sakit kepala, pingsan, sampai pada kematian. Dengan melakukan pencucian darah anda dapat memurnikan darah anda dari unsur methanol, walaupun mungkin hal ini kurang ideal karena porses cuci darah memerlukan waktu yang cukup lama.

2. Gagal Ginjal

Gagal ginjal adalah penyebab cuci darah yang paling sering ditemui. Gagal ginjal secara umum berarti kemunduran fungsi ginjal atau kerusakan ginjal sehingga ginjal tidak dapat menjalankan fungsinya dalam mengendalikan sisa limbah metabolisme tubuh yang seharusnya dikeluarkan dan disterilkan melalui pengeluaran urin, keringat atau feses.

Sisa-sisa metabolisme tubu yang tidak dikeluarkan dari tubuh secepatnya dapat menjadi racun berbahaya di dalam tubuh apabila ginjal sudah tidak menjalankan fungsinya. Penumpukan sisa metabolisme yang berpotensi menjadi racun tersebut dapat menyebabkan darah terkontaminasi sehingga berpeluang merusak kesehatan organ tubuh lain. Untuk itu perlu dilakukan cuci darah agar darah tetap steril dan masa hidup orang tersebut lebih panjang.

3. Gangguan elektrolit

Ketika tubuh kelebihan zat kalium (melebihi 6,5 mEq/l) maka akan muncul secara bertahap gejala hiperkelemi berupa mual mual, Badan kelelahan, Otot terasa lemas, kesemutan . Pada kondisi yang parah gangguan elektrolit ini akan memicu kerusakan jantung dimana seorang pasien dapat menjalani program cuci darah. Zat kalium yang berlebih pada penderita ginjal adalah penyebab cuci darah yang paling sering menyerang orang dewasa.

4. Diabetes

Penyakit diabetes yang sudah memasuki stadium 4 berpotensi menjadi penyebab cuci darah. Diabetes menyebabkan berbagai macam keluhan kesehatan termasuk kesehatan ginjal dan kondisi darah yang terkontiminasi dengan racun lain hasil dari obat obatan dan kadar gula yang tidak bisa ditolerir lagi. Akibatnya cuci darah harus dijalani sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

5. Kanker

Kanker stadium 4 sangat mempengaruhi kondisi kesehatan darah dan ginjal sehingga ketika ginjal benar benar dalam kondisi yang akut maka sudah tak ada lagi limbah sisa makanan yang dapat disaring dengan normal. Penumpukan racun dalam darahpun tak bisa dihindari sebagai penyebab cuci darah rutin. Dalam hal ini cuci darah adalah satu satunya solusi terbaik untuk mendapatkan kondisi darah yang bersih dari racun.

6. Hipertermia

Penyebab cuci darah yang dapat menimpa segala usia adalah ketika seseorang terkena hipertermia dalam jangka panjang dan tidak segera mendapat penanganann medis. Hipertemia adalah kondisi dimana tubuh sedanag mengalami peningkatan suhu akibat adanya infeksi sehingga terjadi kelainan pada saraf saraf serta aliran darah . Pada saat hipertemia karena infeksi pada ginjal maka ginjal akan lebih cepat mendapat kegagalan dalam mengatur cairan serta fungsinya kacau dalam menyaring racun dalam tubuh sehingga tidak dapat mengeluarkan racun dengan normal yang akhirnya cuci darah adalah jalan yang terbaik untuk mengembalikan kualitas darah.

7. Tekanan Darah Tinggi

Penyebab cuci darah bisa juga diakibatkan karena seseorang adalah penderita tekanan darah tinggi akut atau kronis yang tidak berupaya menurunkan tekanan darahnya maka kondisi tersebut lama kelamaan dapat menpengaruhi kinerja ginjal. Tekanan darah dapat mengagnggu peredaran dan pembuluh darah termasuk pada area organ ginjal. Dengan menjalani cuci darah diharapkan mesin cuci dapat mengeluarkan sisa atau limbah metabolisme yang sudah tidak dibutuhkan tubuh melalui urin, keringat dan feses.

Prosedur Cuci Darah dan Jenisnya

Cuci darah merupakan suatu prosedur menyaring darah dengan bantuan mesin yang disebut dialisis. Tanpa dialisis, maka produk-produk sisa dan garam dalam tubuh akan menumpuk dalam darah dan mengendap menjadi racun. Untuk mengalirkan darah anda ke mesin, maka dokter akan membuat sebuah akses dari pembuluh darah anda melalui operasi.

Akses pembuluh darah ini akan mengalirkan darah yang cukup banyak dari tubuh sehingga darah yang tersaring akan cukup banyak dan dengan mudah keluar dari tubuh. Akses pembuluh darah ini dapat bersifat jangka panjang maupun jangka pendek, bergantung dari kondisi medis yang anda miliki.

Prosedur cuci darah biasanya dilakukan di rumah sakit dan berlangsung selama tiga hingga lima jam. Anda mungkin perlu datang untuk menjalani prosedur selama beberapa kali dalam satu minggu, tergantung dari kondisi dan kebutuhan medis anda. Sebelum dilakukan cuci darah, berat badan anda akan ditimbang, demikian pula setelahnya, hal ini bertujuan untuk mengukur seberapa besar kelebihan cairan yang dapat diambil dari darah Anda.

Ada Dua Jenis Dialisis Yaitu Hemodialisis Dan Dialisis Peritoneal

  • Hemodialisis

Hemodialisis (HD) adalah jenis dialisis yang paling banyak digunakan saat ini. Dilakukan dengan cara memasukkan jarum ke pembuluh darah kemudian dihubungkan melalui selang ke tabung mesin atau alat cuci darah. Darah ditransfer dari tubuh ke mesin dialisis, yang akan menyaring produk limbah dan kelebihan cairan. Darah yang telah disaring kemudian dikembalikan lagi ke dalam tubuh. Kebanyakan orang membutuhkan tiga kali dalam seminggu (tergantung tingkat keparahan), masing-masing proses cuci darah berlangsung selama empat jam.

  • Dialisis Peritoneal

Dialisis peritoneal merupakan jenis cuci darah yang kurang terkenal. Metode ini menggunakan lapisan perut (peritoneum) sebagai filter. Seperti ginjal, peritoneum berisi ribuan pembuluh darah kecil, membuatnya menjadi perangkat penyaringan yang berguna. Selama dialisis peritoneal, selang fleksibel kecil yang disebut kateter terpasang di perut melalui sayatan kecil. Cairan khusus yang disebut cairan dialisis dipompa ke ruang sekitar peritoneum (rongga peritoneal).

Ketika darah bergerak melalui peritoneum, produk limbah dan kelebihan cairan dipindahkan dari darah ke dalam cairan dialisis. Cairan dialisis kemudian dikeringkan dari rongga. Proses dialisis peritoneal berlangsung sekitar 30-40 menit dan biasanya diulang empat kali sehari. Atau, Anda dapat menjalankannya semalam.

Efek Setelah Cuci Darah

Lantas, apa saja efek setelah cuci darah yang bisa kamu alami atau kamu dapatkan? Berikut ini adalah beberapa efek cuci darah yang telah dirangkum dari berbagai sumber yang dapat dipercaya hanya untuk kamu yang mengunjungi AhliGinjal.com

1. Berkurangnya Risiko Gangguan Kardiovaskular

Salah satu efek setelah cuci darah yang baik untuk tubuh adalah turunnya risiko gangguan kardiovaskular, seperti gangguan pada jantung, stroke dan lain sebagainya. Secara prinsip penyakit-penyakit kardiovaskular dapat mengganggu jantung dan juga pembuluh darah kita. Apabila para penderita gagal ginjal tidak mencuci darah, maka risiko gangguan kardiovaskular juga akan meningkat disebabkan karena kondisi darah yang kotor dan penuh dengan racun.

 

Penyakit kardiovaskular dalam jangka panjang berpotensi untuk memperparah kondisi ginjal karena darah yang mengalir ke dalam ginjal pun juga akan penuh dengan racun. Apabila gagal ginjal yang diderita oleh pasien pada waktu itu terjadi bukanlah gagal ginjal kronis, maka mengalirnya darah penuh racun ke dalam tubuh pasien itu dapat membuat pasien mengalami gagal ginjal kronis.

2. Berkurangnya Tingkat Racun Dalam Darah

Dengan dilakukannya cuci darah pada penderita gagal ginjal, baik gagal ginjal akut ataupun gagal ginjal kronis, maka salah satu efek yang pasti terjadi adalah berkurangnya tingkat racun di dalam darah karena racun-racun tersebut akan disaring melalui alat dialisis yang digunakan ketika proses cuci darah dilakukan dan hal ini pun merupakan salah satu tujuan cuci darah. Oleh karena itu para penderita gagal ginjal akan mampu bertahan hidup lebih lama bila dibandingkan dengan tidak melakukan cuci darah dan tidak melakukan penanganan lainnya karena racun sudah pasti akan menumpuk di dalam tubuh.

3. Berkurangnya Risiko Gangguan Keseimbangan Elektrolit Pada Ginjal

Melakukan cuci darah juga dapat membantu mengurangi potensi terjadinya gangguan keseimbangan elektrolit pada ginjal. Hal ini terjadi karena setelah cuci darah, kadar elektrolit yang ada di dalam darah biasanya akan kembali seimbang karena elektrolit yang berlebihan akan disaring oleh alat dialisis. Sehingga saat darah hasil cucian tersebut mengalir ke dalam ginjal atau ke organ-organ yang lain, elektrolit-elektrolit penting tidak berkurang atau bahkan hilang atau memiliki jumlah yang berlebihan dan dapat berdampak negatif pada tubuh

Efek Samping Cuci Darah

 

 

Selain memberikan manfaat bagi ginjal dan tubuh kita secara umum, cuci darah juga dapat menghasilkan beberapa efek samping tertentu bagi tubuh kita. Efek samping ini bisa dihindari dengan penanganan yang tepat, serta bisa disembuhkan pula dengan penanganan yang tepat. Walaupun resiko terbesarnya adalah terjadinya berbagai komplikasi yang bisa membuat kesehatan anda semakin turun. Namun dengan mengetahui efek samping di bawah ini, anda dapat lebih siap menghadapi cuci darah bila memang anda harus melakukannya.

1. Hipotensi

Hipotensi atau tekanan darah rendah adalah salah satu efek samping yang umum terjadi pada pasien cuci darah yang menerapkan metode hemodialisis. Hal tersebut karena kurangnya cairan yang terdapat di dalam tubuh. Hipotensi atau tekanan darah rendah ini dapat menyebabkan efek samping lain seperti mual atau sakit kepala.

2. Infeksi Bakteri Staphylococcal

Bakteri staphylococcal adalah salah satu jenis bakteri yang mungkin dapat menginfeksi dan berkembang dalam proses cuci darah dengan metode hemodialisis. Bakteri ini dapat menyebabkan infeksi pada kulit, misalnya kulit terasa tebakar. Untuk mencegah agar tidak terjadi infeksi, pastikan peralatan untuk melakukan dialisis benar-benar steril, pastikan pula tubuh anda juga sudah bersih agar tidak meningkatkan resiko terjadinya infeksi bakteri jahat. Mintalah dokter anda untuk memastikan kebersihan tempat dialisis sehingga anda akan merasa lebih aman saat dokter memulai proses cuci darah.

Apabila anda melakukan cuci darah secara mandiri, maka tidak ada cara lain selain anda harus memastikan kebersihan peralatan serta tuuh anda sendiri. Jangan menyimpan peralatan untuk mencuci darah anda di tempat yang kotor atau berdebu dan rawan menjadi sarang berkembangnya bakteri jahat.

3. Sepsis

Sepsis adalah keadaan dimana infeksi bakteri staphylococcal sudah menjalar melalui darah ke berbagai organ tubuh yang lain. Biasanya disebut pula dengan keracunan darah atau blood poisoning. Apabila sepsis terjadi, akan akan mengalami demam tinggi atau pusing-pusing. Untuk mencegah sepsis anda harus memastikan agar peralatan dan tempat serta badan anda sendiri sudah bersih sebelum dilakukan cuci darah.

Itulah beberapa penyebab cuci darah dan metode nya yang dapat mengakibatkan anda harus melakukan perawatan dengan cuci darah selama ginjal anda masih tidak berfungsi dengan sempurna. Terakhir, semoga ginjal anda selalu sehat dan anda tidak perlu melakukan cuci darah selama hidup anda.

You Might Also Like