Buta Warna, Penyebab Dan Jenis Serta Gejala

Pernahkah Anda membayangkan, bagaimana jika dunia ini hanya memiliki dua variasi warna (hitam dan putih)? Tentu saja ini akan sangat membosankan, warna-warni yang indah dipercaya dapat memberikan sensasi yang menyenangkan bagi otak dan bahkan menjadi obat bagi mereka yang stres. Lantas bagaimana mereka yang mengalami buta warna

Buta warna adalah kekurangan atas penglihatan atas warna. Mata tidak akan melihat warna seperti biasanya jika ada masalah dengan pigmen pada reseptor warna. Jika salah satu pigmen hilang, maka mata akan memiliki masalah melihat warna tertentu. Seseorang yang memiliki buta warna akan kesulitan melihat merah, hijau atau biru atau campuran warna-warna ini.

Penyebab Buta Warna

Buta warna merupakan sebuah kelainan pada mata yang diakibatkan oleh ketidakmampuan sel kerucut pada mata untuk menangkap spektrum atau gradasi warna tertentu. Umumnya disebabkan karena faktor genetis atau kelainan genetika kromosom x yang diturunkan dari orang tua keanaknya. Karena adanya kerusakan pada sel pigmen warna di dalam sel kerucut retina. Akibat disfungsinya salah satu sel pigmen atau semuanya, seseorang akan mengalami gangguan pengelihatan warna-warna tertentu.

1. Faktor Genetik

Kebanyakan penderita buta warna yang mengalaminya sejak lahir disebabkan oleh faktor genetik yang berikatan dengan kromosom X. Seorang ayah penderita buta warna tidak akan memiliki anak yang menderita buta warna kecuali pasangannya memiliki gen buta warna. Hal ini mungkin karena wanita lebih berperan dalam menjadi pembawa gen (carrier) yang akan mewarisi buta warna kepada anak. Penderita buta warna akibat faktor genetik juga jauh lebih sering terjadi pada pria dibandingkan wanita, walau terkadang kondisi ini dapat melewati satu generasi. Anak perempuan dipastikan mengidap buta warna jika kedua orang tua adalah pembawa gen buta warna.

2. Faktor Penyakit

Ada sejumlah penyakit yang bisa menyebabkan seseorang menjadi buta warna, seperti penyakit Alzheimer, glaukoma, neuritis optik, leukemia, diabetes, kebiasaan mengkonsumsi alkohol berlebih, macular degeneration dan anemia sel sabit.

3. Faktor Usia

Kemampuan seseorang dalam membedakan warna perlahan akan berkurang seiring bertambahnya usia. Ini adalah hal alami dalam rangkaian proses penuaan dan tidak perlu disikapi secara berlebihan.

4. Bahan Kimia Dan Efek Samping Obat-Obatan

Beberapa bahan kimia industri atau lingkungan diantaranya memiliki predikat sebagai penyebab buta warna seperti karbon monoksida, karbon disulfida, pupuk, dan styrene. Selain itu, efek samping dari penggunaan obat-obatan juga dapat menyebabkan kebutaan terhadap warna, dimana diantara beberapa obat tertentu yang digunakan untuk mengobati gangguan saraf dan masalah psikologis dapat menyebabkan buta warna.

5. Faktor Paparan Zat Kimia

Paparan zat kimia yang terkandung dalam pupuk serta zat kimia seperti karbon disulfide, juga diketahui bisa menjadi pemicu seseorang mengalami defisiensi warna. Oleh karena itu orang-orang yang berada di lingkungan kerja dengan resiko terpapar zat kimia tersebut sangat disarankan untuk menggunakan alat pelindung yang aman dan memadai

6. Faktor Kecelakaan

Adanya benturan dan trauma terutama pada bagian kepala, bisa menyebabkan terganggu dan rusaknya sel kerucut pada retina mata. Hal ini menyebabkan orang yang mengalami trauma kepala itu bisa mengalami difisiensi warna

7. Glaukoma

Glaukoma merupakan gangguan penglihatan yang disebabkan oleh adanya peningkatan tekanan di dalam mata (tekanan intraokular), baik akibat produksi cairan mata yang berlebih atau karena terhalangnya saluran pembuangan cairan tersebut. Tekanan tersebut akan menyebabkan kerusakan serabut saraf retina atau jaringan saraf yang melapisi bagian belakang mata dan saraf optik yang menghubungkan mata kepada otak. Kasus hilangnya penglihatan pada Primary Open Angle Glaucoma (POAG) menyebabkan adanya kematian sel ganglion retina. Hal tersebut terjadi kemungkinan karena apoptosis. Biasanya glaukoma menyebabkan adanya gangguan buta warna.

Jenis Buta Warna

Buta warna total adalah kategori untuk penderita yang sama sekali tak bisa melihat warna-warna lain selain hitam dan putih. Sementara buta warna parsial adalah kondisi di mana penderita hanya bisa melihat warna hijau atau merah. Ada baiknya untuk mengenali satu per satu jenis buta warna yang paling umum dijumpai.

1. Anomalous Trichromacy

Masih ada pula jenis dari buta warna yang disebut dengan istilah Anomalous Trichromacy di mana gangguan penglihatan warna bisa dipicu oleh faktor keturunan alias genetik maupun kerusakan mata sesudah memasuki usia dewasa. Penderita anomalous trichromacy memiliki tiga sel kerucut yang lengkap, namun terjadi kerusakan mekanisme sensitivitas terhadap salah satu dari tiga sel reseptor warna tersebut. Penderita buta warna dapat melihat berbagai warna akan tetapi dengan interpretasi berbeda dari pada normal yang paling sering ditemukan adalah:

  • Protanomali

Tipe anomalous trichromacy satu ini adalah kondisi di mana ada kelainan yang terjadi terhadap Long-Wavelength (Red) pigment yang menjadi penyebab dari sensitivitas warna merah yang menurun dan menjadi lebih rendah. Hal ini kemudian mengartikan bahwa penderita tipe anomalous trichromacy ini tak memiliki kemampuan untuk membedakan warna serta melihat kombinasi warna yang dilihat oleh orang-orang dengan mata normal. Keluhan pada tipe buta warna ini, penderita akan mengalami penglihatan yang buram terutama ketika melihat warna spektrum merah. Inilah yang kemudian menjadi pemicu dari timbulnya kesalahan dalam membedakan warna hitam dan merah pada mata mereka.

  • Deutronomali

Selain protanomali, ada pula deutronomali, yakni disebabkan oleh kelainan bentuk pigmen Middle-Wavelenght (Green). Dengan cacat pada hijau sehingga diperlukan lebih banyak hijau, Pada kondisi ini, tentunya seorang penderita tak akan mampu melihat warna hijau dengan normal, kebalikan dari protanomali tadi.

  • Trikromat anomali

Pada kondisi buta warna jenis ini, kelainan dijumpai justru pada Short-Wavelength Pigment (Blue) atau dengan kata lain ada kelainan pada pigmen biru. Diketahui pada keadaan ini terjadi pergeseran ke area hijau dari spektrum merah. 3 pigmen kerucut pada penderita memang lengkap, namun inilah jenis di mana ada 1 kerucut yang tak normal. Ada kemungkinan bahwa letak gangguan hanya terjadi di satu pigmen kerucut. Bahkan perbandingan merah hijau pada anomali ini yang dipilih pada anomaloskop tidaklah sama bila dibandingkan dengan orang normal.

2. Dichromacy

Dichromacy adalah jenis buta warna di mana salah satu dari tiga sel kerucut tidak ada atau tidak berfungsi. Akibat dari disfungsi salah satu sel pigmen pada kerucut, seseorang yang menderita dikromatis akan mengalami gangguan penglihatan terhadap warna-warna tertentu. Ketika salah satu sel pigmen pada kerucut tak berfungsi, gangguan penglihatan akan terjadi pada warna-warna tertentu. Berdasarkan pada kerusakan pigmen, dichromacy ini dibagi menjadi 3, yaitu:

  • Titranopia

Pada kondisi titranopia, hal ini ditandai dengan tak dimilikinya Short-Wavelength Cone oleh seseorang. Ketika mengalami Tritanopia ini, yang jelas penderita akan mengalami kesulitan ketika harus membedakan antara warna kuning dan biru dari spektrum cahaya tampak. Buta warna biru-kuning adalah nama lain bagi kondisi tritanopia ini dan kasus ini adalah yang paling jarang.

  • Deutranopia

Pada kondisi satu ini, gangguan penglihatan yang terjadi diketahui penyebab utamanya adalah ketiadaan photoreceptor retina hijau. Itulah yang kemudian menyebabkan penglihatan seseorang tak mampu berfungsi normal terhadap warna tertentu. Keluhan utama adalah munculnya kesulitan sewaktu harus membedakan hue warna hijau dan merah sehingga ini diistilahkan sebagai red-green hue discrimination.

  • Protanopia

Satu lagi jenis yang masih termasuk dalam dichromacy, yakni protanopia di mana ketiadaan photoreceptor retina merahlah penyebab utamanya.Pada penderita protonopia, penglihatan terhadap warna merah tidak ada. Dichromacy tipe ini terjadi pada 1 % dari seluruh pria. Keadaan yang paling sering ditemukan dengan cacat pada warna merah hijau sehingga sering dikenal dengan buta warna merah – hijau.

3. Monochromacy atau Buta Warna Total

Tentu kita setidaknya pernah tahu atau mendengar istilah monochrome di mana hasil warna yang dilihat adalah hitam dan putih. Monochromacy ini juga dikenal dengan sebutan akromatopsia, yakni kondisi seseorang yang hanya punya sebuah pigmen cones atau disfungsi akan seluruh cones cell/sel kerucut. Pada monokromat kerucut hanya dapat membedakan warna dalam arti intensitasnya saja dan biasanya 6/30. Pada orang dengan buta warna total atau akromatopsia akan terdapat keluhan silau dan nistagmus dan bersifat autosomal resesif. Bentuk buta warna ini dikenal juga :

  • Monokromatisme Cone Atau Kerucut

Pada kondisi ini, hanya ada sedikit cacat saja pada penderitanya dan merupakan hal yang tak begitu serius. Tidak ada nistagmus dan bahkan ketajaman penglihatan berada pada tahap atau tingkat normal.

  • Monokromatisme Rod Atau Batang (Akromatopsia)

Pada kedua mata terdapat kelainan atau disebut juga suatu akromatopsia di mana terdapat kelainan pada kedua mata bersama dengan keadaan lain seperti tajam penglihatan kurang dari 6/60, nistagmus, fotofobia, skotoma sentral dan mungkin terjadi akibat kelainan sentral hingga terdapat gangguan penglihatan warna total, hemeralopia (buta silang) tidak terdapat buta senja, dengan kelainan refraksi tinggi. Pada pemeriksaan dapat dilihat adanya makula dengan pigmen abnormal.

Gejala Buta Warna

Penderita atau penyandangnya sendiri kadang tidak menyadari kelainan yang dideritanya. Untuk buta warna yang disandang sejak lahir, biasanya mengenai kedua mata, umumnya terdeteksi saat anak mulai belajar macam-macam warna. Konsultasi dan pemeriksaan pada dokter spesialis mata akan lebih membantu menegaskan kelainan yang ada. Buta warna lebih sering terjadi pada pria dibanding wanita.

Pada kasus yang ringan seperti buta warna merah-hijau akan ditemukan kesulitan mengenali campuran warna-warna tersebut. Penyandang buta warna parsial bisa saja masih mampu mengenali beberapa warna primer dengan baik. Tergantung pula seberapa terang atau gelapnya warna yang dilihat. Mereka kadang butuh waktu lebih lama untuk membedakan warna.

Buta warna biru-kuning, walau lebih jarang terjadi dibanding buta warna merah-hijau, umumnya disebut lebih berat. Penyandang buta warna biru-kuning biasanya juga menyandang buta warna merah-hijau. Pada kondisi yang lebih berat dapat disertai nistagmus yaitu gerakan bola mata yang cepat ke arah tertentu dan tak disengaja. Hanya salah satu mata buta warna dapat terjadi pada kasus yang didapat, seperti karena cedera atau trauma dan terkait penyakit tertentu.

Diagnosis Dan Perawatan Buta Warna

Kebanyakan kasus buta warna diakibatkan oleh faktor genetik, namun bisa juga berkembang setelah dilahirkan. Ada beberapa tes yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis buta warna, di antaranya:

  • Tes Ishihara

Tes ini yang paling umum digunakan untuk mendiagnosis buta warna, namun hanya bisa mendiagnosis kondisi buta warna merah-hijau. Biasanya pada proses pemeriksaan, penderita bakal diminta untuk mengenali angka pada sebuah gambar dalam bentuk titik-titik berwarna dan kelihatan samar-samar.

  • Tes Penyusunan

Tes ini dilakukan dengan cara menyusun objek berwarna dalam susunan gradasi warna yang berbeda-beda, Penderita juga kemudian perlu melakukan penyusunan benda berwarna sesuai gradasi warna yang ia lihat.

Jika anda menderita buta warna, janganlah merasa terpinggirkan. banyak penderita buta warna yang bisa menjalani kehidupan normal. Demikianlah ulasan mengani buta warna, penyebab serta bagaimana mencari solusinya.

You Might Also Like