Autisme, Penyebab Dan Cara Terapinya

Banyak sekali definisi yang beredar tentang Autis. Tetapi secara garis besar, Autis adalah gangguan perkembangan khususnya terjadi pada masa anak-anak, yang membuat seseorang tidak mampu mengadakan interaksi sosial dan seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri dan keterbatasan untuk membentuk suatu hubungan dengan orang lain.

Sebuah penelitian terbaru dari daerah metropolitan AS memperkirakan bahwa 3,4 dari setiap 1.000 anak-anak berusia 3-10 tahun memiliki autis. Penelitian terbaru pada tahun 2009 menunjukkan autis sekarang mempengaruhi setiap 1 dari 110 anak-anak. Dan prosentase ini tampaknya semakin meningkat. Apakah autis merupakan penyakit atau sifat? simak jawabannya disini.

Penyebab Autisme

Autisme merupakan gangguan dalam perkembangan seorang anak. Gangguan tersebut terkait dengan perkembangan saraf yang ia miliki yang ditandai dengan kelemahan kemampuan bersosial, kemampuan berkomunikasi dan beberapa perilaku lainnya. Gangguan saraf semacam ini memberikan pengaruh terhadap normalnya fungsi otak dan dan perkembangan skill lainnya. Seorang autis akan merasa kesulitan untuk berkomunikasi non-verbal serta sulit dalam berbagai kegiatan lainnya.

Menurut CDC ( Centre for Disease Control) tidak ada yang tahu apa yang menyebabkan anak-anak menjadi autis. Para ilmuwan berpikir bahwa ada hubungan genetika dan lingkungan. Mengetahui penyebab dari autisme sangat sulit karena otak manusia sangat rumit. Otak mengandung sel saraf lebih dari 100 miliar neuron.

Setiap neuron mungkin memiliki ratusan atau ribuan sambungan yang membawa pesan ke sel-sel saraf lain di otak dan tubuh. Neurotransmiter menjaga neuron bekerja sebagaimana mestinya, seperti Anda dapat melihat, merasakan, bergerak, mengingat, emosi pengalaman, berkomunikasi dan melakukan banyak hal-hal penting lainnya. Penelitian terbaru menitikberatkan pada kelainan biologis dan neurologis di otak, termasuk ketidakseimbangan biokimia, faktor genetik dan gangguan kekebalan. Beberapa kasus mungkin berhubungan dengan autis adalah

  • Infeksi virus (rubella kongenital atau cytomegalic inclusion disease)
  • Fenilketonuria (suatu kekurangan enzim yang sifatnya diturunkan)
  • Sindroma X yang rapuh (kelainan kromosom).

Perlu kamu ingat bahwa menurut para dokter, autis bukanlah penyakit dan tidaklah menular. Jadi, apabila ada seseorang yang diketahui sebagai penyandang autisme di sekitar lingkunganmu, jangan ragu untuk mendekatinya dan mengajaknya berteman. Tidak ada yang perlu ditakuti dari penyandang autisme karena autisme itu hanyalah gangguan tumbuh kembang yang menyebabkan mereka tidak dapat fokus terhadap sesuatu.

Autisme juga bukanlah penyakit kejiwaan karena ia merupakan suatu gangguan yang terjadi pada otak sehingga menyebabkan otak tersebut tidak dapat berfungsi selayaknya otak normal dan hal ini termanifestasi pada perilaku penyandang autisme.

Hal yang belum diketahui adalah penyebab autis. Segala sesuatu dari perubahan genetik hingga kontak kandungan ibu dengan penyakit sampai ketidakseimbangan kimia telah dipersalahkan. Namun ternyata, faktor-faktor orangtua bisa diabaikan yang dianjurkan oleh beberapa peneliti. Walaupun diinformasikan bahwa mereka tidak ada hubungannya dengan penyakit anak mereka ini, beberapa orangtua terus-menerus mengatakan bahwa mereka merasa bersalah karena tidak mampu berinteraksi dengan anak mereka. Berikut yang harus Anda diketahui tentang autis.

1. Kesulitan Dengan Kemampuan Organisasi

Penderita autis lepas dari kemampuan intelektual mereka, ternyata memiliki kesulitan mengatur diri mereka sendiri. Seorang pelajar autis mungkin bisa menyebutkan tanggal-tanggal bersejarah setiap perang yang terjadi, namun selalu lupa membawa pensil mereka ke kelas. Murid-murid ini bisa jadi seorang yang sangat rapi atau paling jorok. Orangtua harus selalu ingat untuk tidak memaksakan kehendaknya pada mereka. Mereka hanya tidak mampu mengatur diri mereka sendiri tanpa pelatihan yang spesifik. Seorang anak penderita autis memerlukan pelatihan kemampuan mengatur dengan menggunakan langkah-langkah kecil yang spesifik supaya berfungsi dalam situasi sosial dan akademis.

2. Seorang Penderita Autis Memiliki Masalah Dengan Pemikiran 

Lepas dari apa yang dikatakan orangtua, beberapa penderita autis akhirnya memperoleh kemampuan abstrak, namun ada juga yang tidak. Pertanyaan: “Mengapa kamu tidak mandi?” nampaknya sesuai untuk dikatakan ketika sedang menghadapi anak yang tidak mau mandi. Dengan anak autis seringkali lebih baik menghindari kalimat pertanyaan yang mengundang perdebatan, sebaiknya Anda mengatakan: “Saya tidak suka kalau kamu tidak mandi. Ayo, masuk ke kamar mandi dan mandi sekarang. Kalau kamu butuh bantuan, saya akan menolongmu tapi saya tidak akan memandikan kamu.” Hindari menanyakan pertanyaan yang panjang lebar. Para orangtua ataupun perawat harus sekonkret mungkin dalam seluruh interaksi mereka.

3. Perilaku Mereka Yang Berbeda Janganlah Diambil Hati

Penderita autis seharusnya tidak dianggap sebagai seorang yang selalu berperilaku menyimpang atau ingin menyakiti perasaan orang lain atau mencoba membuat hidup jadi sulit bagi orang lain. Seorang penderita autis jarang bisa bersikap manipulatif. Umumnya perilaku mereka merupakan hasil dari usaha mereka keluar dari pengalaman yang menakutkan atau membingungkan. Penderita autis, secara alami karena ketidakmampuan mereka, memiliki sifat egosentris. Kebanyakan penderita autis menghadapi masa-masa sulit untuk bisa memahami reaksi orang lain karena adanya ketidakmampuan persepsi.

4. Aturlah Sikapnya

Meskipun rasanya mustahil untuk mengatur sikap anak autis. Kuncinya ialah konsistensi dan pengurangan stres pada anak. Juga dianjurkan untuk melakukan penambahan sikap sosial yang positif dilakukan secara rutin.

5. Hati-hati Dengan Lingkungan

Dalam banyak contoh, seorang penderita autis bisa sangat sensitif dengan apa yang ada dalam ruangan. Cat tembok warna cerah atau dengungan lampu pijar sangat mengganggu bagi para penderita autis. Untuk membuat perubahan yang berarti, guru dan orangtua perlu waspada dan berhati-hati terhadap lingkungan dan masalah- masalah yang ada.

Gejala Autisme

Gejala autisme dapat bermacam-macam dan berbeda tiap individu. Secara historis, para ahli dan peneliti dalam bidang autisme mengalami kesulitan dalam menentukan seseorang sebagai penyandang autisme atau tidak. Persoalan ini  memengaruhi keakuratan suatu diagnosa seringkali juga muncul dari adanya fakta bahwa perilaku-perilaku yang bermasalah merupakan dampak dari pola asuh yang kurang tepat.

Gejala-gejala autisme dapat dilihat apabila seorang anak memiliki kelemahan di tiga domain tertentu, yaitu sosial, komunikasi dan tingkah laku yang berulang. The National Institute of Child Health and Human Development (NICHD) di Amerika Serikat menyebutkan 5 jenis perilaku yang harus diwaspadai dan perlunya evaluasi lebih lanjut, meski belum tentu juga anak tersebut menyandang autisme karena karakteristik gangguan autisme itu sangat beragam.  Gejala autisme diuraikan di bawah ini dapat dijadikan pedoman untuk melihat ciri-ciri autis.

  • Anak tidak bergumam hingga usia 12 bulan
  • Anak tidak memperlihatkan kemampuan gestural (menunjuk, melambai, menggenggam) hingga usia 12 bulan
  • Anak tidak mengucapkan sepatah kata pun hingga usia 16 bulan
  • Anak tidak mampu menggunakan dua kalimat secara spontan di usia 24 bulan
  • Anak kehilangan kemampuan berbahasa dan interaksi sosial pada usia tertentu

Cara Diagnosa

Autisme tidak dapat langsung diketahui pada saat anak lahir atau pada Skrining Prenatal (tes penyaringan yang dilakukan ketika anak masih berada dalam kandungan). Tidak ada tes medis untuk mendiagnosis autisme. Suatu diagnosis yang akurat harus berdasarkan kepada hasil pengamatan terhadap kemampuan berkomunikasi, perilaku dan tingkat perkembangan anak.

Karakteristik dari kelainan ini beragam, maka sebaiknya anak dievaluasi oleh suatu tim multidisipliner yang terdiri dari ahli saraf, psikolog anak-anak, ahli perkembangan anak-anak, terapis bahasa dan ahli lainnya yang berpengalaman di bidang autisme. Pengamatan singkat dalam satu kali pertemuan tidak dapat menampilkan gambaran kemampuan dan perilaku anak. Masukan dari orang tua dan riwayat perkembangan anak merupakan komponen yang sangat penting dalam menegakkan diagnosis yang akurat.

Pengobatan Autisme

Karena autisme bukanlah penyakit, maka tidak ada obat untuk autisme. Terapi dan intervensi perilaku dirancang untuk memperbaiki gejala spesifik dan dapat meningkatkan perkembangan anak secara substansial. Tidak seperti gangguan perkembangan lainnya, tidak banyak petunjuk treatment yang telah dipublikasikan apalagi prosedur yang standar dalam menangani autisme.

Bagaimanapun juga para ahli sependapat bahwa terapi harus dimulai sejak awal dan harus diarahkan pada hambatan maupun keterlambatan yang secara umum dimiliki oleh setiap anak autis, misalnya; komunikasi dan persoalan-persolan perilaku. Dengan terapi yang tepat, penyandang autisme bisa memperbaiki gejala autis yang dimiliki, meski pada sebagian orang akan tetap memiliki beberapa gejala autis sepanjang hidup mereka.

Terapis menggunakan keterampilan terstruktur dan intensif yang berorientasi pada sesi pelatihan dalam membantu anak-anak mengembangkan keterampilan sosial dan bahasa, seperti analisis perilaku terapan. Konseling keluarga bagi orang tua dan saudara kandung anak-anak dengan autis sering membantu dalam mengatasi tantangan tertentu dari hidup dengan seorang anak dengan autisme.

Dengan terapi yang tepat, banyak penderita autisme berhasil melakukan perbaikan, meskipun sebagian besar orang akan memiliki beberapa gejala sepanjang hidup mereka. Kebanyakan orang dengan autisme dapat hidup dengan keluarga mereka atau di masyarakat. Secara keseluruhan prognosis autis tergantung pada tingkat keparahan autisme dan tingkat terapi orang yang menerima.

Demikianlah pembahasaan penyebab autisme dan cara pengobatannya, semoga artikel ini menambah wawasan Anda dan nantikan artikel kami yang terbarunya 🙂

You Might Also Like