Apa Itu Anak Berkebutuhan Khusus? Simak Ulasan Di bawah Ini

Memiliki anak tentu menjadi sebuah kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan, sehingga sebagian orangtua bahkan akan merasa hidup mereka menjadi lengkap setelah kehadiran anak di tengah-tengah keluarga mereka. Namun apa jadinya jika sebuah keluarga mendapatkan anak yang berbeda dari anak normal pada umumnya atau sering dibilang anak berkebutuhan khusus. Meski begitu anak tersebut tetaplah darah daging yang wajib disayangi dan dicintai sama seperti anak normal pada umumnya.

Nah untuk kalian yang sering mendengar kata anak berkebutuhan khusus, namun belum mengerti apa itu sebenarnya dan seperti apa rupa anak berkebutuhan khusus tersebut. Artikrl berikut ini akan menjelaskannya untuk anda.

Jenis Anak Berkebutuhan Khusus

Anak berkebutuhan khusus yaitu anak yang jika di lihat secara signifikan merupakan seorang anak yang memiliki kelainan, baik dalam fisik, emosional, mental ataupun sosial, dalam proses pertumbuhannya jika di bandingkan dengan sejumlah anak yang lainnya yang memang seusia dengannya sangatlah berbeda dan anak berkebutuhan khusus sangat memerlukan perhatian, kasih sayang yang lebih spesifik, baik itu di lingkungan rumah dan sekolah. Spesifikasi tersebut ada karena memiliki berbagai hambatan dalam pertumbuhannya dan memiliki karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya.

1. Tunanetra

Tunanetra adalah seseorang yang mengalami gangguan pada penglihatannya, baik itu berupa gangguan total atau bahkan hanya sebagian penglihatan saja. Dan walaupun mereka telah diberipertolongan alat bantu khusus mereka masih tetap mendapat pendidikan khusus. Kehilangan kemampuan penglihatan adalah suatu kondisi dimana fungsi penglihatannya mengalami penurunan mulai dari derajat yang ringan hingga yang paling berat. Ada dua kategori besar yang tergolong dengan kehilangan kemampuan penglihatan yaitu:

  • Low vision

Orang yang mengalami kesulitan untuk menyelesaikan tugas-tugasnya yang berkaitan dengan penglihatan namun dapat menyelesaikan tugas tersebut dengan menggunakan strategi pendukung penglihatan, melihat dari dekat, penggunaan alat-alat bantu dan juga modifikasi lingkungan sekitar.

  • Kebutaan

Yaitu orang yang kehilangan kemampuan penglihatanatau hanya memiliki kemampuan untuk mengetahui adanya cahaya atau tidak. Penyebab terjadinya kehilangan kemampuan penglihatan adalah karena adanya permasalahan pada struktur atau fungsi dari mata. Gangguan penglihatan dapat di ketahui dengan ciri-ciri berikut

  • Tidak mampu melihat
  • Tidak mampu mengenali pada jarak 6 meter
  • Kerusakan nyata pada kedua bola mata
  • Sering meraba-raba atau tersandung waktu berjalan
  • Mengalami kesulitan saat mengambil benda kecil di sekitarnya
  • Bagian bola mata yang hitam berwarna keruh,bersisik dan kering
  • Peradangan hebat pada kedua bola mata
  • Posisi mata sulit dikendalikan oleh syaraf otak, antara lain mata bergoyang-goyang terus

2. Tunagrahita

Tunagrahita adalah seseorang yang mengalami masalah di dalam perkembangan mentalnya. Hal ini bahkan bisa saja berupa kondisi keterbelakangan yang jauh di bawah rata-rata sedemikian rupa sehingga membuatnya mengalami masalah dalam berbagai bidang, misalnya: kesulitan dalam berkomunikasi dan bersosialisasi, kesulitan dalam belajar dan memahami suatu masalah. Pada umumnya anak tunagrahita memang membutuhkan penanganan khusus, meskipun tidak tertutup kemungkinan mereka untuk belajar mandiri.

3. Tunarungu

Seseorang yang mengalami gangguan pada fungsi pendengaran disebut tunarungu. Gangguan ini bisa saja berupa kehilangan seluruh fungsi pendengaran atau bahkan sebagian saja. walaupun telah diberikan pertolongan dengan alat bantu dengar masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus.

4. Tunalaras

Tunalaras adalah seseorang yang mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan dan juga orang-orang di sekitarnya. Anak tunalaras pada umumnya sulit untuk berkomunikasi dan memiliki emosi yang tidak stabil, sehingga merugikan dirinya maupun orang lain dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus demi kesejahteraan dirinya maupun lingkungannya.

5. Tunadaksa

Tunadaksa adalah seseorang yang mengalami masalah atau kelainan pada alat gerak tubuhnya. Kondisi ini bisa saja berupa cacat permanen, terutama pada anak yang memang mengalami masalah tersebut sejak lahir. Tingkat gangguan pada tunadaksa adalah ringan yaitu memiliki keterbatasan dalam melakukan aktifitas fisik tetap masih dapat ditingkatkan melalui terapi, sedangkan dengan tingkat yang sedang yaitu memilki keterbatasan motorik dan mengalami gangguan koordinasi sensorik, berat yaitu memiliki keterbatasan total dalam gerakan fisik dan tidak mampu mengontrol gerakan fisik.

6. Lamban Belajar (Slow Learner) 

Lamban belajar (Slow Learner) adalah anak yang memiliki potensi intelektual sedikit di bawah normal tetapi belum termasuk tunagrahita. Dalam beberapa hal mengalami hambatan atau keterlambatan berpikir, merespon rangsangan dan adaptasi sosial, tetapi masih jauh lebih baik dibanding dengan yang tunagrahita, lebih lamban dibanding dengan yang normal, mereka butuh waktu yang lebih lama dan berulang-ulang untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas akademik maupun non akademik, karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus.

7. Anak Yang Mengalami Kesulitan Belajar Spesifik

Anak yang berkesulitan belajar spesifik adalah anak yang secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus (terutama dalam hal kemampuan membaca, menulis dan berhitung atau matematika), disebabkan karena faktor disfungsi neugologis, bukan disebabkan karena faktor inteligensi (inteligensinya normal bahkan ada yang di atas normal), sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Anak berkesulitan belajar spesifik dapat berupa kesulitan belajar membaca (disleksia), kesulitan belajar menulis (disgrafia) atau kesulitan belajar berhitung (diskalkulia), sedangkan mata pelajaran lain mereka tidak mengalami kesulitan yang signifikan

8. Anak Yang Mengalami Gangguan Komunikasi

Anak yang mengalami gangguan komunikasi adalah anak yang mengalami kelainan suara, artikulasi (pengucapan) atau kelancaran bicara, yang mengakibatkan terjadi penyimpangan bentuk bahasa, isi bahasa atau fungsi bahasa, sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Anak yang mengalami gangguan komunikasi ini tidak selalu disebabkan karena faktor ketunarunguan.

9. Bertindak Gugup

Ketika anak berkebutuhan khusus merasa cemas maka ia akan melakukan perbuatan-perbuatan aneh, sama halnya seperti orang normal hanya saja mereka lebih random. Seperti gerakan pada mulut seperti meyedot jari dan juga gigit jari dan menjulurkan lidah. Gerakan aneh disekitaran hidung, seperti mencukil hidung, mengusap-usap atau menghisutkan hidung yang sering menyebabkan rasa gugup mereka dianggap bisa hilang. Tak jarang menjadi gerakan yang agak anarkis seperti gerakan sekitar jari seperti mencukil kuku, melilit-lilit tangan atau mengepalkan jari layaknya orang marah. Gerakan sekitar rambut seperti, mengusap-usap rambut, mencabuti atau mencakar rambut tanpa mereka sadari.

10. Iri pada Orang Lain

Anak berkebutuhan khusus masih berpikir dan berperasaan layaknya anak balita. Sikap iri hati yang selalu merasa kurang senang ketika orang lain senang atau mendapatkan sesuatu yang menguntungkan. Terutama jika hal tersebut adalah hal yang ia sukai, maka anda sebagai orang lainnya akan dikejar olehnya tanpa ampun.

ABK membutuhkan segala sesuatu yang benar-benar spesifik dan juga jelas. Cobalah untuk membahas topik yang spesifik dengan mereka dan jangan mengambang karena mereka tidak bisa mengerti dan anda tidak bisa menggali cara komunikasi mereka dengan baik. Seperti contoh, jika kamu ingin berbincang mengenai film maka fokus saja pada film judul apa ceritanya seperti apa jangan lari dari luar film tersebut

Penyebab

Berbagai macam penyebab kelainan yang mengakibatkan terjadinya penyimpangan terhadap seorang anak yang membuat dirinya berbeda dari anak-anak pada umunya.

1. Faktor Herediter

Faktor herediter sering terjadi karena kelebihan kromosom yang diakibatkan oleh kesamaan gen pada pasangan suami istri. Selain itu, usia ibu sewaktu hamil juga sangat berpengaruh terhadap kelahiran anak. Usia ibu hamil di atas 35 tahun memiliki resiko yang cukup tinggi untuk melahirkan anak berkebutuhan khusus.

2. Kekurangan Gizi

Masa tumbuh kembang sangat berpengaruh terhadap tingkat kecerdasan anak terutama pada 2 tahun pertama kehidupan. Kekurangan gizi dapat terjadi karena adanya kelainan metabolisme maupun penyakit parasit pada anak seperti cacingan. Hal ini mengingat Indonesia merupakan daerah tropis yang banyak memunculkan atau tempat tumbuh-kembangnya penyakit parasit dan juga karena kurangnya asupan makanan yang sesuai dengan kebutuhan anak pada masa tumbuh kembang. Hal ini di dukung oleh kondisi penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan.

3. Trauma

Kejadian yang tak terduga dan menimpa langsung pada anak, seperti proses kelahiran yang sulit sehingga memerlukan pertolongan yang mengandung resiko tinggi atau kejadian saat kelahiran saluran pernafasan anak tersumbat sehingga menimbulkan kekurangan oksigen pada otak (asfeksia), terjadinya kecelakaan yang menimpa pada organ tubuh anak terutama bagian kepala.

4. Faktor Keracunan

Keracunan dapat secara langsung terkena anak, maupun melalui ibu saat kehamilan. Munculnya FAS (Fetal Alcohol Syndrome) adalah keracunan janin yang disebabkan ibu mengonsumsi alkohol berlebihan. Kebiasaan ibu mengkonsumsi obat bebas, tanpa pengawasan dokter merupakan potensi keracunan pada janin. Jenis makanan yang dikonsumsi bayi yang banyak mengandung zat-zat berbahaya merupakan salah satu penyebab. Adanya polusi pada berbagai sarana kehidupan, terutama pencemaran udara dan air juga sebagai faktor penyebab.

5. Faktor Infeksi

Merupakan suatu penyebab adanya berbagai serangan penyakit infeksi yang dapat menyebabkan, baik langsung maupun tidak langsung terjadinya kelainan seperti TORCH (toksoplasma, rubella, cytomegalo virus, herpes), polio, meningitis dan sebagainya.

Gejala Yang Harus Anda Ketahui

Secara umum kita dapat mengetahui bahwa seorang anak termasuk anak berkebutuhan khusus, apabila kita dapat mengenali ciri-ciri yang nampak secara fisik dari anak tersebut. Anak dikategorikan berkebutuhan khusus akan nampak ciri-ciri secara fisiknya, dan dapat kita kenali anatra lain :

  • Apabila saat kita menatap mata anak tersebut, maka anak tersebut akan mengalihkan pandangannya dari kontak mata kita.
  • Raut wajah anak nampak datar tanpa ekspresi, tanpa motivasi dan tanpa keinginan walaupun mereka dalam keadaan sedih, senang, kalah, maupun menang.
  • Secara fisik mereka memiliki fisik yang bagus, namun akan nampak saat kita ajak mereka untuk berdiskusi yaitu anak tersebut kadang tidak memperhatikan atau mendengarkan apa yang akan kita bicarakan, mereka kadang sulit untuk menyampaikan pendapatnya, berbicara dengan cedal, meyampiakan dengan kata-kata yang tidak jelas bahkan dengan jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaannya.
  • Jika anak kita bawa pada suatu lingkungan yang banyak anak seusianya, anak tersebut cenderung tidak mau bergaul dengan mereka namun memilih untuk bermain sendiri, seakan-akan mereka memiliki dunianya sendiri yang tidak mau diganggu oleh orang lain.
  • Anak sering berbicara sendiri, bermain sendiri dan menjauh dari lingkungan pergaulan.
  • Secara fisik dan nampak dengan jelas anak memiliki keterbatasan (cacat)

Uraian di atas adalah ciri-ciri umum yang dapat kita kenali sejak dini, namun bukan berarti kita dapat dengan mudah memberikan label kepada anak dengan ciri-ciri tersebut di atas sebagai anak berkebutuhan khusus, karena tanpa diagnosa dari ahlinya yaitu pikolog atau psikiater maka belum dapat dikatakan bahwa anak tersebut adalah anak berkebutuhan khusus.

Jenis Terapi Anak Berkebutuhan Khusus

Karena berbeda dari umumnya, maka anak-anak kebutuhan khusus tentunya membutuhkan kasih sayang dan perhatian yang lebih spesifik. Nah berikut ini beberapa cara menangani anak-anak berkebutuhan khusus.

1. Terapi sosial

Kekurangan yang paling mendasar bagi individu autisme adalah dalam bidang komunikasi dan interaksi. Banyak anak-anak ini membutuhkan pertolongan dalam ketrampilan berkomunikasi 2 arah, membuat teman dan main bersama ditempat bermain. Seorang terapis sosial membantu dengan memberikan fasilitas pada mereka untuk bergaul dengan teman-teman sebaya dan mengajari cara-caranya.

2. Terapi visual

Individu autistik lebih mudah belajar dengan melihat (visual learners atau visual thinkers). Hal inilah yang kemudian dipakai untuk mengembangkan metode belajar komunikasi melalui gambar-gambar, misalnya dengan metode PECS (Picture Exchange Communication System). Beberapa video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan ketrampilan komunikasi.

3. Berikan Motivasi, Perhatian dan Bimbingan

Anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus tentunya membutuhkan motivasi, perhatian, serta bimbingan yang lebih dibandingkan dengan anak-anak lainnya. Dengan perhatian dan motivasi yang besar dan intens tentunya membantu anak bisa berkembang menjadi lebih baik lagi. Tentu butuh kesabaran yang ekstra bagi orang tua yang menangani anak-anak berkebutuhan khusus namun semua ini demi perkembangan anak yang lebih maksimal.

4. Adaptasi Dengan Anak

Dibutuhkan adaptasi antara pengasuh, orang tua, serta anak-anak kebutuhan khusus sendiri. Jika adaptasi tersebut tidak berjalan dengan lancar, tentu segala cara yang dilakukan tidak akan membantu perkembangan anak. Ketika proses adaptasi bisa berjalan dengan baik, tentu membuat segala proses selanjunya berjalan dengan mudah. Adaptasi yang baik tentu akan membantu anda memahami kondisi serta potensi anak.

5. Ajari Anak Untuk Mengeksplor Ketrampilannya

Orang tua dengan anak-anak berkebutuhan khusus tentunya membutuhkan energi ekstraketika mendidik anak-anaknya. Meskipun anak-anak anda memiliki kebutuhan khusus namun sudah menjadi sebuah kewajiban bagi orang tua untuk mendampingi dan mendidiknya. Anda bisa mengisi waktu luangnya untuk rekreasi atau membuat ketrampilan yang dapat membantu fokus serta kosentrasi anak. Dari hal-hal semacam ini, anda bisa mengetahui potensi yang dimiliki anak sehingga membuat anak menjadi lebih produktif.

6. Terapi Fisik Atau Fisioterapi

Autisme adalah suatu gangguan perkembangan pervasif. Banyak diantara individu autistik mempunyai gangguan perkembangan dalam motorik kasarnya. Kadang-kadang tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya kurang bagus. Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan sangat banyak menolong untuk menguatkan otot-ototnya dan memperbaiki keseimbangan tubuhnya.

7. Pelajari Kebiasaan dan Kebutuhan Anak

Tentunya karena kondisinya yang berbeda, anak-anak kebutuhan khusus memiliki kebutuhan dan kebiasaan yang berbeda. Sehingga sebagai orang tua penting untuk mengetahui kedua hal tersebut. Dengan memahami kebutuhan dan kebiasaan anak tentunya membuat anda semakin terbiasa menghadapi anak-anak dengan kebutuhan khusus.

Jika dilihat secara kasat mata, memiliki anak berkebutuhan khusus tentu bukan perkara yang mudah. Namun segala sesuatunya tentu sudah diatur oleh Sang Pencipta, termasuk memilih orangtua yang akan menerima berkat untuk membesarkan anak-anak seperti ini. Untuk orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, tetaplah semangat dan bersyukur, sebab tidak semua orang mampu menanggung tanggung jawab yang besar seperti Anda.

You Might Also Like